JP RADAR NGANJUK Pecinta kuliner nusantara di Surabaya kini punya satu lagi alasan mampir ke Tunjungan Plaza. Kafe Betawi, yang membuka cabang di pusat perbelanjaan terbesar di Kota Pahlawan ini, menghadirkan cita rasa khas Jakarta lewat sajian Soto Daging Betawi yang gurih, kental, dan memanjakan lidah. Menu ini menjadi favorit banyak pengunjung di antara deretan hidangan khas Betawi lainnya, seperti sop buntut dan laksa.
Ciri khas Soto Betawi terletak pada kuahnya yang creamy dan gurih. Tidak seperti soto daerah lain, kuah Soto Betawi dibuat dari kombinasi santan dan susu, menghasilkan tekstur kental dengan rasa yang kaya. Wikipedia mencatat, “campuran santan dan susu membuat rasa soto Betawi begitu khas,” apalagi ditambah potongan daging sapi empuk dan jeroan seperti babat, paru, dan kikil yang semakin memperkaya isiannya.
Di Kafe Betawi TP, Soto Daging Betawi hadir dalam beberapa varian, mulai dari Soto Betawi Daging, Soto Betawi Campur, hingga Soto Betawi Kikil. Sajian ini disempurnakan dengan emping, sambal, dan perasan jeruk nipis yang membuat rasa semakin segar. Beberapa ulasan pelanggan di TripAdvisor menyebut menu Kafe Betawi ini “lezat dan sesuai harga” untuk ukuran mall kelas atas.
Secara historis, Soto Betawi sudah dikenal sejak tahun 1965–1970, menjadi identitas kuliner Jakarta yang berbeda dari jenis soto Nusantara lainnya. Kehadiran Kafe Betawi di Surabaya pun membuktikan bahwa kuliner khas ibu kota dapat diterima di luar daerah asalnya.
Meski disajikan dalam suasana modern di mall, tantangan tetap ada. Kuah harus tetap pekat, jeroan empuk, dan rasa tidak boleh melenceng dari autentisitasnya. Namun justru di situlah daya tariknya: pengunjung bisa menikmati kuliner tradisional dalam suasana nyaman sambil berbelanja di pusat kota.
Jika konsistensi kualitas dan cita rasa terus terjaga, Soto Daging Betawi di Kafe Betawi Tunjungan Plaza berpotensi menjadi ikon kuliner Jakarta di Surabaya. Sebuah bukti bahwa warisan rasa Betawi mampu menyeberangi batas daerah dan tetap dicintai masyarakat luas.
Dita Amelia Ningsih
Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Karen Wibi