Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Keunikan dan Perjalanan Pretzel: Dari Tradisi Abad Pertengahan hingga Camilan Modern

Internship Radar Kediri • Kamis, 6 November 2025 | 00:24 WIB
Roti pretzel khas Jerman dengan rasa gurih dan tekstur empuk
Roti pretzel khas Jerman dengan rasa gurih dan tekstur empuk

JP RADAR NGANJUK Bagi pecinta roti, nama pretzel tentu sudah tidak asing. Roti berbentuk simpul (knot) ini memiliki keunikan yang membuatnya berbeda dari roti pada umumnya: tekstur luar garing, bagian dalam lembut, dan cita rasa gurih berkat taburan garam kasar. Kini, camilan asal Eropa itu telah mendunia dan menjadi favorit di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pretzel diperkirakan lahir pada abad ke-7 Masehi di kawasan Jerman atau Eropa Selatan. Salah satu kisah populer menyebutkan, roti ini pertama kali dibuat oleh biarawan sebagai hadiah kecil bagi anak-anak yang berhasil menghafal doa. Bentuk simpulnya diyakini melambangkan tangan bersedekap saat berdoa. Dari kata Latin pretiola yang berarti “hadiah kecil”, nama ini berkembang menjadi brezel di Jerman, lalu dikenal luas sebagai pretzel.

 

Ciri khas pretzel terletak pada proses pembuatannya. Adonan sederhana dari tepung gandum, air, ragi, dan garam direndam lebih dulu dalam larutan soda kue sebelum dipanggang. Teknik ini membuat kulit luar pretzel berwarna cokelat keemasan, mengilap, dan renyah, sementara bagian dalamnya tetap lembut. Kombinasi inilah yang menjadi daya tarik utama pretzel sejak ratusan tahun lalu.

Popularitas pretzel juga kian meluas dengan berbagai inovasi. Di Indonesia, masyarakat mengenal pretzel melalui brand internasional seperti Auntie Anne’s, yang menghadirkan varian rasa original, salted, manis dengan cinnamon sugar, hingga keju. Tak hanya di mal, pretzel juga mulai hadir di kafe dan toko roti lokal sebagai camilan modern dengan sentuhan internasional.

 

Keunikan bentuk simpulnya yang estetis membuat pretzel juga diminati generasi muda. Selain enak, roti ini fotogenik untuk konten media sosial. Ditambah lagi, fleksibilitas topping mulai dari asin gurih, manis, cokelat, hingga keju membuat pretzel mampu menyesuaikan selera masyarakat di berbagai belahan dunia.

Kini, pretzel bukan sekadar camilan jalanan Eropa, melainkan simbol kuliner global. Dari biara di abad pertengahan hingga pusat perbelanjaan modern, roti simpul ini membuktikan bahwa tradisi kuliner mampu bertahan sekaligus bertransformasi, mengikuti selera zaman tanpa kehilangan identitas khasnya.

 

Dita Amelia Ningsih 

Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

Editor : Karen Wibi
#roti jerman #roti tradisional #kuliner jerman #Pretzel