Beberapa tahun silam, Wisata Tani Betet tidak sebagus seperti saat ini. Tempat tersebut masih memiliki kondisi yang jauh dari kata layak. Karena memang tempat tersebut dulunya hanya sebuah embung untuk menampung kelebihan air dari area persawahan.
Hal itu seperti yang diceritakan oleh pengelola Wisata Tani Betet bernama Heri Siswanto. Heri menjelaskan, dulu, sebelum tahun 2016, Wisata Tani Betet tidak terurus. Hanya sebuah embung untuk penampungan air.
Namun semuanya berubah sejak 2016. Kala itu ada program normalisasi sungai dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk. Embung yang tidak berbentuk itu lalu dirapikan. Nyaris seperti kondisi saat ini. “Awalnya tidak berbentuk. Setelah dinormalisasi, bentuknya jadi sedikit lebih bagus,” ujarnya.
Karena hal itu, oleh warga sekitar, tempat tersebut lalu dirawat. Tanaman liar di sekitar embung lalu dipotong dan dibuang. Diganti dengan tanaman yang lebih bagus. Mulai dari tabebuya, ketapan, dan masih banyak yang lainnya.
Tak diduga, puluhan pohon yang ditanam di sepanjang embung itu membuat embung jadi menarik. Warga sekitar lalu sering berkunjung ke tempat tersebut. Namun baru di 2019 ada ide untuk membuat tempat tersebut jadi tempat wisata.
Sayang, belum genap satu tahun, pandemi datang. Tempat wisata yang sempat viral itu jadi terdampak. Jumlah pengunjung menurun drastis. Namun karena keuletan pengelola, tempat wisata itu bertahan.
Lalu sekitar 2021, tempat wisata tersebut kian viral. Hingga puncaknya masih terjadi hingga saat ini. Tempat wisata yang ada di Desa Betet, Kecamatan Ngronggot itu dikunjungi oleh ribuan wisatawan setiap harinya. (wib/tyo)
Editor : Miko