Perjalanan darat jarak jauh selalu menyimpan dua sisi mata uang. Kelancaran yang patut disyukuri dan kejutan alam yang di luar kendali.
Namun, dari setiap drama yang mendebarkan di atas aspal lintas provinsi, selalu ada kearifan kuliner lokal yang siap menjadi pelipur lara sebelum roda kendaraan kembali berputar menuju pelukan Kota Angin.
Awal perjalanan arus balik kami dari Pulau Sumatera terasa begitu menjanjikan. Proses menyeberang dari Pelabuhan Bakauheni menuju Merak terbilang sangat lancar.
Tidak ada antrean mengular yang menguras emosi. Kabar baiknya lagi, harga tiket kapal ferry masih menetapkan satu harga, sama persis dengan tarif saat arus mudik lalu. Semua skenario awal berjalan mulus tanpa hambatan.
Namun, dinamika aspal mulai terasa begitu ban kendaraan kami menginjak bumi Pulau Jawa. Memasuki kawasan pusat ibu kota negara dan sekitarnya, denyut nadi arus balik mulai berdetak kencang. Volume kendaraan melonjak drastis, khususnya arus dari arah timur yang bergerak masif menuju ke barat.
Dampaknya langsung terasa pada lajur yang kami gunakan. Beberapa ruas tol mulai memberlakukan sistem contra flow (lawan arus) untuk mengurai kepadatan.
Otomatis, kebijakan ini membuat jalur kami yang mengarah ke timur menjadi menyempit. Jalan tol yang sejatinya memiliki empat lajur, harus rela disunat menjadi dua lajur saja.
Sadar akan kondisi jalan yang dinamis, kami menerapkan strategi khusus untuk menjaga "kesehatan" kendaraan agar tetap prima.
Kami memilih untuk lebih banyak menepi dan beristirahat. Selain meluruskan otot yang kaku, ini adalah cara paling ampuh untuk mendinginkan mesin mobil setelah digeber berjam-jam.
Dari pagi hingga siang, cuaca cerah seolah merestui perjalanan kami. Namun, alam selalu punya skenarionya sendiri. Menjelang waktu maghrib, langit Jawa Barat yang awalnya memendarkan warna jingga keemasan mendadak berubah gelap gulita.
Kilatan petir mulai menyambar bergantian, menjadi tirai pembuka bagi hujan lebat yang akhirnya mengguyur aspal tol.
Saat masuk malam hari dan di bawah guyuran hujan deras, kendaraan kami mendapat masalah. Bukan pada mesin, melainkan wiper (penyeka kaca) depan.
Sial tak dapat ditolak, wiper sebelah kanan tiba-tiba patah dan terlepas. Jarak pandang seketika terganggu parah. Padahal, melaju di jalan tol saat hujan lebat tanpa wiper yang berfungsi sangatlah berbahaya.
Dengan pandangan yang terbatas, kami perlahan merayap dan memutuskan berhenti di Rest Area KM 88A.
Harapannya satu, mencari bengkel untuk memperbaiki wiper yang patah. Namun, nihil. Menurut penuturan karyawan SPBU setempat, bengkel di rest area tersebut sedang tutup dan montirnya dipindah tugaskan ke rest area seberang tol untuk melayani kendaraan arus balik yang volumenya sedang membeludak.
Kondisi yang terlalu berbahaya memaksa kami mengubah rute. Kami memutuskan keluar pintu tol di Purwakarta. Beruntung, di sana kami menemukan sebuah bengkel mobil kecil yang masih buka.
Sebuah wiper pengganti sementara akhirnya terpasang. Dengan wiper seadanya itu, kami melanjutkan perjalanan dengan merayap hingga menembus Tasikmalaya. Setibanya di sana, kami memilih menyerah. Kami akhirnya beristirahat total hingga siang, sekaligus mengganti wiper dengan yang baru dan berstandar aman.
Setelah drama yang menegangkan itu usai dan mobil kembali bugar, tiba saatnya memanjakan perut. Berada di Kota Resik (julukan Tasikmalaya), insting berburu kuliner kami otomatis menyala. Pilihan kami jatuh pada salah satu primadona kuliner setempat yaitu Soto Ayam Kampung Nonoy khas Tasikmalaya.
Untuk harga 1/2 porsi cukup Rp 30 ribu dan satu porsi Rp 35 ribu. Adapun paket hematnya 1/4 ekor Rp 48 ribu, 1/2 ekor Rp 80 ribu. Dan satu ekor Rp 155 ribu. Porsi soto ini menjadi pembeda dengan soto lainnya.
Termasuk kuah santannya yang lebih encer tidak menggunakan susu. Dan bahan utamanya adalah ayam kampung. Meski ayam kampung, tekstur dagingnya tetap lembut.
Adapun bumbu utamanya merupakan harmoni dari bawang merah, bawang putih, kunyit bakar, jahe, kemiri, dan ketumbar.
Semuanya disempurnakan dengan daun jeruk dan serai yang menebarkan aroma segar nan tajam. Tak lupa, taburan koya gurih di atasnya menjadi sentuhan akhir yang magis.
Saat kuahnya diseruput, rasanya sungguh kompleks namun memanjakan lidah. Perpaduan antara segar, manis, dan gurih yang balance.
Rasa trauma menembus badai di tol semalam seolah luntur bersama hangatnya kuah soto ini. Perut kini sudah terisi penuh, tenaga kembali pulih, dan kami pun siap kembali melanjutkan sisa perjalanan menuju Nganjuk.
Editor : rekian