Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Menikmati Arus Balik sambil Berburu Kuliner Khas Nusantara (habis): Renyahnya Sate Bebek di Tepian Banyumas

rekian • Jumat, 27 Maret 2026 | 07:54 WIB
MAKNYUS: Sate Bebek dan olahan bebek khas Banyumas, Jawa Tengah.
MAKNYUS: Sate Bebek dan olahan bebek khas Banyumas, Jawa Tengah.

Jalur tengah Jawa Tengah selalu punya cara sendiri untuk memanjakan para pemudik yang enggan terjebak situasi jalan tol yang begitu-begitu saja. Dari Tasikmalaya menuju Nganjuk, perjalanan non-tol menyuguhkan parade kuliner khas mulai dari Cilacap hingga Kebumen.

Namun, ada satu titik di Banyumas yang memaksa kami menepi, sebuah kedai sate bebek yang telah berdiri sejak 1995, di mana rahasia kelezatannya terkunci dalam legitnya Kecap Kentjana yang legendaris.

Perjalanan arus balik dari Lebong menuju Nganjuk membawa kami pada ritme yang berbeda. Setelah melepas lelah dengan menginap di Tasikmalaya, kami memutuskan untuk tidak terburu-buru masuk ke jalur bebas hambatan. Kami memilih jalur non-tol, membelah jantung Jawa Tengah melalui jalur tengah yang menawarkan pemandangan dan kekayaan rasa yang autentik.

Memasuki wilayah "Ngapak", suasana hangat mulai terasa. Roda kendaraan terus berputar melewati Cilacap, Banyumas, hingga Kebumen. Di sepanjang tepian jalan, mata kami dimanjakan oleh deretan penjual kuliner khas.

Mulai dari segarnya Dawet Ireng, manisnya Getuk Goreng, hingga kudapan tradisional lainnya yang kini memang mulai mudah ditemukan di daerah lain, namun selalu terasa lebih istimewa di tempat asalnya.

Saat energi mulai menurun, tubuh memerlukan asupan yang lebih bertenaga untuk menuntaskan sisa perjalanan. Sebelum roda memasuki wilayah Kebumen, kami memutuskan untuk berhenti di Banyumas, berburu olahan unggas yang sudah tersohor di Sate Bebek Pak Encus.

Warung yang sudah berdiri sejak tahun 1995 ini bukan sekadar tempat makan, melainkan perhentian wajib bagi para pemburu kuliner jalur tengah. Menu andalannya, sate bebek dengan bumbu kuah kacang, benar-benar menjadi penggugah selera yang luar biasa.

Ada satu hal yang membuat kami terkesan. Yakni daging bebeknya dipanggang dengan tingkat kematangan yang sempurna hingga teksturnya sangat empuk. Bahkan, si kecil yang baru berusia dua tahun pun dapat mengunyahnya dengan mudah tanpa kesulitan.

Rahasia kelezatannya seolah terkunci pada proses pengolahan yang teliti. Tidak ada aroma amis yang tertinggal. Justru, rasa manis yang kental mendominasi setiap gigitan.

Rasa manis ini bukan sembarang manis, melainkan hasil karamelisasi dari penggunaan Kecap Kentjana, kecap legendaris produksi asli Kebumen yang punya karakter rasa yang khas.

Agar santapan semakin komplet, kami juga memesan seporsi Rica-Rica Bebek. Bagi Anda penyuka tantangan pedas, menu ini adalah pasangan wajib bagi si sate bebek yang manis.

Rasa pedas rempahnya memberikan sensasi hangat yang bertahan lama, seolah membangkitkan kembali stamina yang sempat redup akibat perjalanan panjang.

Untuk urusan harga, pengalaman rasa ini tergolong sangat sebanding. Satu porsi rica-rica dan sepuluh tusuk sate bebek masing-masing dibanderol seharga Rp 50 ribu. Harga yang cukup adil untuk sebuah resep legendaris yang terjaga selama puluhan tahun.

Usai mengisi perut dan hati dengan kepuasan kuliner, kami kembali memacu kendaraan menuju Nganjuk. Membawa serta kenangan tentang jalur tengah dan aroma sate bebek yang masih tertinggal di ingatan.

Editor : rekian
#arus balik #kuliner khas #tasikmalaya #nganjuk #sate #banyumas