Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Benarkah Bukti Evolusi Manusia Purba Tertinggal di Museum Trinil, Ngawi?

Redaksi Radar Nganjuk • Kamis, 6 Februari 2025 | 02:00 WIB

 

 

Museum Trinil di Dusun Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Museum Trinil di Dusun Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

 

JP Radar Nganjuk- Tahukah warga Nganjuk bahwa temuan bersejarah manusia purba terpenting berada di Pulau Jawa? Ya, bukti temuan yang menghebohkan dunia itu dapat dilihat di Museum Trinil.


Lokasi tepatnya di Dusun Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar,
Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Dari kota Ngawi jaraknya sekitar 15 km dari menuju arah Solo.
Pada 1891, di daerah Trinil, ditemukan atap tengkorak dan gigi manusia yang menyerupai kera.


Pada 1892 ditemukan tulang paha dari individu yang sama. Trinil pun menjadi situs
manusia purba terpenting di Jawa yang menghebohkan dunia.
Temuan ini menjadi bukti adanya evolusi manusia purba yang banyak dibicarakan paleontolog, geolog dan arkeolog. Kali pertama fosil manusia purba itu ditemukan Eugene Dubois pada 1891 dan 1892.


Pada 29 Oktober 1877, Dubois bertolak ke Sumatera menumpang kapal The SS Prince Amalia. Selama dua tahun ia melakukan eksplorasi di gua – gua di Sumatera, namun tulang – tulang yang ia temukan tidak sesuai dengan keinginannya.
Pencariannya kemudian berpindah ke Jawa setelah mendengar temuan Manusia Wajak di Tulungagung oleh BD van Rietschoten pada 24 Oktober 1899.


Di Pulau Jawa, Eugene Dubois tertarik pada endapan Sungai Bengawan Solo yang dianggapnya memiliki kronologi kehidupan selama jutaan tahun.
Pada 1891, di Trinil ditemukan tengkorak dan gigi manusia menyerupai kera. Lalu, 1892 ditemukan tulang paha dari individu yang sama.

Eugene Dubois kemudian menyebut temuan ini sebagai Pithecanthropus erectus atau manusia kera yang berjalan tegak. Selama aktivitas ekskavasi yang dilakukan Eugene Dubois di Trinil, ada seorang pribumi bernama Wirodiharjo yang mengikuti kegiatan ekskavasi tersebut.

Pada 1967 Wirodiharjo memiliki gagasan mengumpulkan atau melestarikan fosil yang ia jumpai di tepian Sungai Bengawan Solo. Fosil tersebut kemudian disimpan di rumahnya hingga mencapai 1/3 dari rumahnya. Dari hobinya ini Wirodiharjo kemudian mulai dikenal dengan nama Wirobalung atas aktivitasnya mengumpulkan balung buto atau fosil manusia purba. Pada 1980/1981, Pemkab Ngawi mendirikan museum mini untuk menampung koleksi fosil Wirodiharjo.

Kemudian, untuk mengingat hasil penemuan fosil Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois, maka dibuatlah tugu sebagai monumen serta membangun Museum Trinil yang diresmikan dengan peringatan 100 tahun penemuan Pithecanthropus erectus oleh Gubernur Jawa Timur Soelarso pada 20 November 1991.

Museum Trinil menempati bekas rumah dan pekarangan Wirodiharjo yang telah diganti dan persis pada tepian Bengawan Solo. Saat ini museum Trinil dikelola Pemkab Ngawi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur.

Penulis : Endro Purwito

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#manusia purba #museum trinil #ngawi #sejarah