Meski memberikan kontribusi ekonomi, industri judi online di Kamboja menghadapi sejumlah tantangan serius. Salah satu isu utama adalah maraknya kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Banyak pekerja asing, termasuk dari Indonesia, tergiur iming-iming gaji tinggi, namun terjebak dalam kondisi kerja yang eksploitatif, seperti jam kerja panjang dan ancaman kekerasan.
Laporan kepolisian Indonesia mencatat ratusan WNI menjadi korban TPPO di Kamboja sejak 2020.
Selain itu, industri ini rentan terhadap kejahatan siber, seperti pencucian uang dan penipuan daring.
Kurangnya pengawasan ketat terhadap platform judi online meningkatkan risiko kebocoran data dan aktivitas ilegal.
Pemerintah Kamboja sempat melarang judi online pada 2020, namun penegakan aturan ini terbukti sulit, dengan banyak operator tetap beroperasi secara sembunyi-sembunyi.
Dampak sosial-ekonomi juga menjadi sorotan. Meskipun industri judi menghasilkan pendapatan besar, manfaatnya tidak selalu dirasakan merata oleh masyarakat lokal.
Banyak kebutuhan kasino masih diimpor, sehingga sektor pendukung lokal kurang berkembang. Dominasi dolar AS di kota-kota judi juga melemahkan nilai tukar riel, mata uang Kamboja, yang memengaruhi daya beli warga.