Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

9 Tahun Menunggu Tuan yang Tak Pernah Pulang, Kisah Hachiko Bikin Dunia Menangis

Dedy Nurhamsyah • Jumat, 27 Juni 2025 | 03:25 WIB

foto terakhir hachiko
foto terakhir hachiko

Di tengah hiruk-pikuk Shibuya yang tak pernah tidur, di antara lalu-lalang manusia dan kereta yang tak kenal henti, berdiri patung seekor anjing yang seolah menatap jauh ke masa lalu. Ia diam, namun bercerita lebih banyak dari ribuan kata. Namanya Hachiko.

Hachiko bukan sembarang anjing. Ia adalah seekor Akita Inu—ras anjing asli Jepang yang dikenal kuat, gagah, dan setia. Tapi tak ada yang menyangka bahwa dari seekor Akita bernama Hachiko, dunia akan mengenal bentuk kesetiaan yang tak tergoyahkan oleh waktu, cuaca, bahkan kematian.

Semua bermula pada awal 1920-an, ketika Profesor Hidesaburō Ueno dari Universitas Tokyo memelihara Hachiko sebagai anjing pendamping. Sejak kecil, Hachiko tumbuh di rumah sang profesor dan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian tuannya. Mereka memiliki rutinitas sederhana namun penuh makna: berjalan bersama menuju Stasiun Shibuya setiap pagi, lalu berpisah ketika sang profesor naik kereta untuk mengajar. Di sore hari, Hachiko selalu kembali ke tempat yang sama—menunggu dengan sabar di depan stasiun untuk menyambut kepulangan orang yang paling ia cintai.

Baca Juga: Apakah Kota Purba Ini Sudah Ada Sebelum Zaman Es Mencair? Nan Madol Bongkar Sejarah Peradaban Dunia

Hari-hari berjalan dalam ritme yang sama, hingga suatu pagi di bulan Mei 1925, Profesor Ueno meninggal dunia secara mendadak karena pendarahan otak saat berada di kampus. Dunia manusia berguncang. Tetapi tidak bagi Hachiko. Bagi seekor anjing yang tidak pernah mengerti arti kematian, sang tuan hanya belum kembali. Maka ia pun terus menanti.

Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun.

Setiap sore, selama sembilan tahun penuh, Hachiko berdiri atau duduk di tempat yang sama, menatap ke arah peron tempat sang profesor biasa muncul. Ia menanti dalam senyap. Dalam dinginnya salju yang menutupi jalan, dalam hujan yang mengguyur trotoar, dan dalam teriknya matahari musim panas Tokyo. Hachiko tak pernah absen. Tak pernah lelah.

Warga sekitar yang awalnya mengira Hachiko adalah anjing liar, perlahan mulai memahami kisah di balik kesetiaannya. Beberapa mulai memberinya makan. Anak-anak memeluknya saat pulang sekolah. Penumpang kereta yang melewati Stasiun Shibuya setiap hari merasa keberadaan Hachiko seperti penanda waktu—ia selalu ada, setia di tempat yang sama. Kisahnya menyebar, menyentuh hati rakyat Jepang yang sedang mencari harapan dan pegangan dalam masa sulit menjelang Perang Dunia.

Pada tahun 1934, saat Hachiko masih hidup, sebuah patung perunggu didirikan di depannya—di lokasi ia biasa duduk menunggu. Patung itu bukan sekadar penghormatan, melainkan perwujudan dari nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jepang: kesetiaan, pengabdian, dan cinta tanpa pamrih.

Baca Juga: Gadis 4 Tahun Hilang 11 Hari di Hutan Siberia, Diselamatkan Anjing Setia yang Jadi Pahlawan

Ketika Hachiko akhirnya meninggal pada 8 Maret 1935, duka mendalam menyelimuti bangsa. Ribuan orang hadir dalam pemakamannya. Media massa menuliskan kisah hidupnya dengan penuh penghormatan. Tubuh Hachiko diawetkan dan dipajang di Museum Nasional Ilmu Alam di Tokyo, sementara sebagian abunya dikuburkan di samping makam Profesor Ueno—menyatukan kembali keduanya, seperti yang selama ini Hachiko dambakan.

Kini, lebih dari delapan dekade sejak ia pergi, patung Hachiko masih berdiri megah di depan Stasiun Shibuya. Di sekelilingnya, orang-orang masih berkumpul, berfoto, dan menyentuh patung itu seakan ingin merasakan secuil keajaiban dari cinta yang abadi.

Karena cinta seperti itu jarang ditemukan. Dan karena terkadang, bentuk cinta paling tulus tak berasal dari manusia—melainkan dari makhluk yang mencintai dengan diam, dengan sabar, dan dengan seluruh jiwanya, tanpa syarat dan tanpa akhir.

Hachiko tak hanya menunggu. Ia mengajarkan dunia tentang apa artinya mencintai. Dan dalam diamnya yang setia, ia telah menjadi legenda yang akan selalu dikenang.

Editor : Jauhar Yohanis
#hachiko #setia #shibuya