JP Radar Nganjuk- Di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah, Pertamina memastikan pasokan energi nasional tetap aman dan terkendali.
Dua kapal minyak milik Pertamina International Shipping (PIS) yang sebelumnya terjebak di area konflik kini telah berhasil keluar dan melanjutkan pelayaran dengan selamat.
Dua Kapal Selamat, Dua Masih Menunggu
Sekretaris Perusahaan PIS, Vega Pita, mengkonfirmasi bahwa dua kapal yang telah meninggalkan wilayah konflik adalah PIS Rinjani dan PIS Paragon.
Keduanya kini dalam perjalanan aman setelah sebelumnya terhambat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Kim Jong Un: Jika Satu Warga Korea Utara Terluka di Iran, Saya Siap Perang!
Sementara itu, dua kapal lainnya masih berada di kawasan Teluk Arab dan memilih untuk menunggu situasi yang lebih aman sebelum melanjutkan pelayaran melalui Selat Hormuz. Jalur vital yang saat ini menjadi pusat ketegangan.
Kapal kedua tersebut adalah VLCC Pertamine Pride, tengah menjalankan misi pengangkutan minyak mentah jenis light crude oil untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri Gamsunoro, sedang melayani pengangkutan kargo milik konsumen pihak ketiga
Baca Juga: AS-Iran Memanas! Trump Murka Usai Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi
Vega memastikan kedua kapal tersebut saat ini berada dalam kondisi aman di kawasan Teluk Arab.
Rantai Pasok Energi Tetap Lancar
Meski ada kapal yang masih menunggu situasi kondusif untuk keluar dari kawasan konflik, Pertamina menjamin rantai pasok energi nasional tetap berjalan lancar.
Baca Juga: Memanas! Iran 'Sentil' Trump Lewat Foto Martir Cilik, Tragedi Bom Minab Guncang Dunia
“Distribusi energi Pertamina Grup saat ini didukung oleh sekitar 345 armada yang beroperasi di berbagai wilayah, baik di perairan internasional maupun perairan Indonesia,” jelas Vega.
Dengan armada sebesar itu, Pertamina telah mengatur ulang rute dan jadwal pengiriman sehingga pasokan energi ke seluruh Indonesia tidak terganggu.
Konteks: Ketegangan di Timur Tengah Meningkat
Baca Juga: Update Sengketa Perbatasan: 14 Tewas Akibat Serangan Roket dan Udara Thailand–Kamboja
Sebagai informasi, ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam sejak 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran. Konflik ini menyebabkan gangguan lalu lintas kapal di Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minya dunia.
Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk, termasuk ke fasilitas-fasilitas yang terkait dengan kepentingan AS. Situasi ini membuat banyak perusahaan pelayaran memilih untuk menghentikan sementara operasi mereka di kawasan tersebut.
Baca Juga: Konflik Thailand-Kamboja Memanas, Ini Penyebab Utamanya dan Dampaknya Sekarang
Keberhasilan dua kapal Pertamina keluar dari wilayah konflik menjadi kabar lega di tengah situasi yang tidak disebutkan. Meski dua kapal lain masih harus bersabar menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan, Pertamina memastikan pasokan energi dalam negeri tetap aman.
Dengan 345 armada kapal yang siap beroperasi, Indonesia memiliki ketahanan logistik yang cukup untuk menghadapi gejolak geopolitik global. Semoga situasi cepat membaik dan semua kapal bisa segera kembali berlayar dengan selamat.
Editor : rekian