Nganjuk, Radar Nganjuk– Ahmad Bahari Ilmi, Seniman Ukir Daun Pembeli dari Korea, Satu Wajah Harganya Mencapai Rp 3 Juta Ahmad Bahari Ilmi, seniman andal asal Kelurahan Jatirejo, Kecamatan Nganjuk. Dia berhasil menyulap daun menjadi karya seni yang berharga. Daun yang tidak digunakan menjadi barang bernilai seni dan bisa menghasilkan uang. Karya seninya berhasil memikat warga Indonesia hingga mancanegara.
Jari-jari Ahmad Bahari Ilmi terlihat sangat lincah. Dengan menggunakan pulpen dia menggambar wajah seseorang di daun. Setelah menjadi sketsa wajah, dia mempertebal. Kemudian, Aril-panggilan akrab Ahmad Bahari Ilmi mengambil silet. Lalu, menggunakan silet untuk membuat wajah sesuai dengan sketsa yang telah dibuatnya. Hasilnya, luar biasa.
Saat diterangi dengan cahaya matahari senja atau lampu, wajah orang yang diukir di daun tersebut terlihat jelas. Ada banyak wajah yang telah diukir. Mulai dari tokoh seperti Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Gus Idam, Cak Nun, Agnes Monica, hingga wajah konsumennya. “Biasanya, ukiran wajah di daun ini untuk kado,” ungkap Aril.
Untuk membuat satu ukir wajah di daun, dia tidak butuh waktu lama. Hanya setengah jam. Dimulai dengan menggambar sketsa wajah. Dimulai dengan garis tipis. Membentuk lekukan-lekukan. Hingga kemudian dipertebal. Sketsa itu kemudian diukir, menggunakan pen silet. “Proses terakhir masuk finishing clear glos atau disemprot anti-jamur biar awet. Setelah jadi dipasang di pigura akrilik dengan hiasan lampu agar cantik,” tuturnya.
Dengan cara dan peralatan sederhana itu, Aril bisa meraup uang jutaan rupiah. Untuk satu wajah di ukiran daun dibanderol Rp 140 ribu. Namun kalau wajah yang diukir lebih dari satu maka pemesan harus membayar tambahan per wajah senilai Rp 50 ribu. “Dalam satu hari biasanya ada 3 pesanan,” ujarnya.
Rata-rata sebulan, Aril mendapat uang Rp 4 juta-Rp 6 juta. Pesanan yang datang, tidak hanya dari wilayah Nganjuk saja. Melainkan sudah go international. Ada pembeli dari Hongkong, Korea dan Taiwan. “Kalau konsumen luar negeri itu harganya Rp 2-3 juta per ukiran daun,” tandasnya.
Geluti Dunia Seni karena Bisnis Konveksi Bangkrut saat Pandemi
Ahmad Bahari Ilmi bisa disebut menjadi seniman ukir daun karena kepepet. Dia menggeluti dunia seni ukir daun akibat bisnis konveksinya bangkrut. Pria berusia 36 tahun itu meneruskan usaha konveksi orang tuanya. Sayang, setelah berjalan sekitar dua tahun, pandemic Covid-19 menyerang Indonesia. Usaha konveksi sepi order. “Saya juga kena tipu orang,” kenangnya.
Covid-19 yang semakin merajalela membuat Aril semakin terpuruk. Modal konveksi tidak kembali. Akibatnya, dia kesulitan mengangsur pinjaman di bank. Karena semuanya sudah ludes. “Bangkrut,” ujarnya.
Dalam kondisi terjatuh itu, Aril berusaha bangkit. Dia pun teringat dengan kemampuannya di bidang seni. Karena saat di pondok pesantren, dia telah menekuni dunia kaligrafi. Saat itu, usianya baru 13 tahun. Hingga SMA, dia masih menekuni seni kaligrafi. Namun, orang tua tidak setuju, Aril kuliah dengan mengambil jurusan seni. Aril pun mengikuti keinginan orang tuanya. Dia kuliah mengambil jurusan ekonomi. Namun, darah seni di dirinya membuatnya tetap ingin menggambar. Dia pun hanya bisa menyalurkan hobinya menggambar dan membuat kaligrafi secara sembunyi-sembunyi. “Saya sempat kerja jadi sales dan manajer di perusahaan yang ada di Malang setelah lulus kuliah,” ungkap suami Qonita Nuril Ula ini.
Sayang, karena kedua adik Aril bekerja di luar Jawa, orang tua meminta Aril pulang ke Nganjuk. Melanjutkan usaha konveksi orang tuanya. Sayang, usaha konveksi bangkrut.
Untuk pemilihan seni ukir daun, Aril mengaku karena seni tersebut belum ada di Nganjuk. Sehingga, dia memilih usaha tersebut untuk membuat dapurnya tetap mengepul.
Karena belum pernah menggambar di daun dan mengukirnya, Aril harus belajar keras. Dia belajar otodidak. Satu bulan dia belajar. “Dari pagi sampai malam saya belajar full sebulan,” kenangnya.
Setelah berhasil, Aril baru berani menerima pesanan. Karena baginya, jika tidak bagus maka dia tidak akan berani menerima pesanan. “Kepuasan konsumen itu prioritas saya,” ujarnya.
Blusukan Cari Daun Nangka ke Pelosok Desa
Daun yang digunakan Aril untuk mengukir wajah bukanlah daun sembarangan. Dia menggunakan daun nangka sebagai media ukirnya. Untuk mendapatkan daun nangka, dia harus blusukan ke pekarangan milik tetangga. Mencari daun kering yang berjatuhan untuk dijadikan karya seni bernilai tinggi. “Kebetulan tetangga sebelah itu memiliki pohon nangka. Kalau tidak ada ya blusukan cari daun nangka di desa,” ujarnya.
Lulusan UIN Malang ini memilih daun nangka karena tekstur dan serat daunnya dianggap sesuai. Selain itu, daunnya juga kuat. Tak mudah patah meskipun sudah kering. Sangat cocok jika dijadikan sebagai media ukir wajah.
Selain daun nangka, Aril mengaku juga pernah menggunakan daun cokelat. Karena daun cokelat lebih lebar dan kuat. Sayang, dia kesulitan mendapatkannya. Ini berbeda dengan daun nangka yang sering dijumpai di desa. “Apa yang ada di alam itu bisa dimanfaatkan. Contohnya daun kering ini bisa jadi karya seni,” ujarnya.
Beruntung, konsumen Aril tidak pernah mempersoalkan soal media ukirnya. Mau dibuat dari daun nangka atau cokelat, tidak masalah. Yang penting gambar wajahnya sesuai dengan keinginan mereka.
Untuk memikat konsumen, Aril menggunakan media sosial (medsos). Dia ikut gru-grup Faceboook (FB). Tidak hanya grup-grup Nganjuk. Namun, grup-grup luar negeri, seperti Korea, Taiwan, dan Hongkong. Hasilnya, memuaskan. Banyak konsumen mancanegara yang tertarik dengan karya seninya.
Bagi Aril, selain mendapatkan uang, dia juga puas. Karena dia bisa mengekspresikan hobinya. Apalagi, istrinya mendukung penuh usahanya sebagai seniman ukir daun. Sang istri yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah itu juga seorang seniman. “Saya ketemu istri itu ya karena dulu ada project bareng melukis background 3D saat kuliah,” tuturnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk