Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Mengapa Tuyul Tidak Bisa Mencuri Uang di ATM dan Bank? Ini Penjelasan Mistisnya

Endro Purwito • Sabtu, 17 Mei 2025 | 02:21 WIB
ilustrasi tuyul
ilustrasi tuyul

JP Radar Nganjuk - Tuyul, makhluk gaib yang dikenal sebagai “setan gundul”, sudah lama dikaitkan dengan praktik pesugihan cara mistis untuk memperoleh kekayaan secara instan.

Dalam cerita-cerita masyarakat, tuyul digambarkan sebagai sosok anak kecil berwujud halus yang dapat mencuri uang tanpa terdeteksi.

Sebagai makhluk astral, tuyul dipercaya mampu masuk ke rumah tanpa terlihat dan mengambil uang tunai dari dompet, laci, atau tempat penyimpanan pribadi.

Namun, di tengah kemampuannya itu, ternyata ada tempat yang tidak bisa dijangkau oleh tuyul—yakni ATM dan bank.

Baca Juga: 6 Kemampuan Mengagumkan Bayi Baru Lahir yang Jarang Diketahui Orang Tua

Menurut penuturan praktisi kejawen Mbak Widri melalui kanal YouTube miliknya, tuyul tidak dapat mencuri uang yang tidak jelas asal-usul dan pemiliknya.

Uang di ATM dan bank bersifat kolektif, milik banyak orang, sehingga tidak memiliki "energi kepemilikan" yang bisa dideteksi oleh tuyul.

Dengan kata lain, tuyul hanya mengincar uang milik individu secara langsung.

Selain itu, tuyul juga diyakini tidak menyukai benda logam atau mesin, seperti brankas besi, karet pengikat uang, dan sistem pengamanan digital.

Karakter tuyul yang mirip anak-anak membuat mereka cenderung menghindari hal-hal yang rumit dan mekanis.

Uang yang tersembunyi dalam mesin atau terikat kuat akan sulit dijangkau oleh makhluk gaib ini.

Baca Juga: Sinopsis Mungkin Kita Perlu Waktu, Film Keluarga yang Mengajarkan Arti Pentingnya Komunikasi

 

 

Biasanya, tuyul akan mulai "berpatroli" pada siang hari untuk mencari rumah target, lalu beraksi saat malam tiba.

Dalam prosesnya, pemilik tuyul juga ikut berperan aktif dengan menunjukkan lokasi dan calon korbannya.

Menariknya, kepercayaan soal tuyul ini bukan hanya bagian dari cerita rakyat, tapi pernah menjadi objek studi ilmiah.

Pada 1950-an, antropolog asal Amerika Serikat, Clifford Geertz, melakukan penelitian di Mojokuto (Pare, Kediri, Jawa Timur).

Dalam penelitiannya, ia mendokumentasikan pandangan masyarakat tentang makhluk halus seperti memedi, lelembut, dan tuyul.

Baca Juga: Tari Miyang Khas Tuban, Kreasi Baru yang Menjadi Identitas Budaya

Geertz mencatat bahwa tuyul digambarkan sebagai makhluk kecil yang bersifat jinak dan tidak menakutkan.

Justru, masyarakat banyak menyukainya karena dianggap bisa membawa rejeki cepat, walau melalui jalan yang menyimpang.

Beberapa sejarawan juga berpendapat bahwa kepercayaan terhadap tuyul berakar dari kesenjangan sosial yang terjadi di masa lalu.

Ketika masyarakat agraris merasa tertinggal secara ekonomi dari para pedagang atau tuan tanah, bantuan makhluk halus dianggap sebagai jalan pintas yang paling "masuk akal" untuk keluar dari kemiskinan.

Baca Juga: Cerita Petani Tangkap Celeng Terdapat dalam  Tari Gandhong yang Terbagi Empat Fragmen

Terlepas dari benar tidaknya keberadaan tuyul, kepercayaan ini tetap hidup di tengah masyarakat hingga kini.

Ia mencerminkan bagaimana ketimpangan ekonomi, budaya lokal, dan kepercayaan spiritual berpadu menjadi bagian dari realitas sosial yang kompleks di Indonesia.

Editor : Miko
#bank #uang #atm #mistis #mencuri #tuyul