Dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran bridesmaid menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pesta pernikahan, terutama di kalangan anak muda. Bridesmaid adalah sekelompok sahabat atau kerabat perempuan yang ditunjuk oleh mempelai wanita untuk mendampinginya di hari pernikahan. Umumnya, mereka berperan membantu persiapan acara, memberi dukungan emosional, serta tampil seragam mendampingi pengantin di hari H.
Namun, tren ini menuai pro dan kontra dari para pelaku jasa pernikahan seperti make up artist (MUA) dan wedding organizer (WO). Banyak di antaranya menilai bahwa peran bridesmaid di Indonesia sering kali tidak sesuai dengan tujuan awalnya.
“Bridesmaid sekarang kebanyakan hanya ikut-ikutan alias FOMO (Fear of Missing Out). Padahal semestinya mereka bisa berperan sebagai pendamping pengantin yang membantu kebutuhan selama acara. Tapi kenyataannya, mereka datang hanya untuk foto-foto lalu pulang,” ujar Riza, MUA asal Kecamatan Gurah, Kediri.
Pernyataan serupa juga datang dari Ery, MUA asal Desa Kapurejo, Kecamatan Pagu. Ia menyebutkan bahwa tidak sedikit bridesmaid yang bingung dengan tugasnya karena kurangnya arahan yang jelas.
“Banyak bridesmaid sekarang yang cuma fokus foto. Mungkin karena tidak ada yang mengarahkan apa tugas mereka sebenarnya,” tutur Ery.
Menurut Ery, kehadiran bridesmaid akan lebih bermanfaat jika dibarengi dengan penggunaan jasa WO. Sebab, WO dapat mengatur dan memberikan pengarahan terkait peran yang seharusnya dijalankan bridesmaid selama acara.
“Kalau ada WO, bridesmaid biasanya bisa diarahkan untuk bantu jaga pengantin, bawakan perlengkapan, atau bantu mengatur tamu,” tambahnya.
Kesimpulannya, tren bridesmaid bisa menjadi elemen yang positif dalam pernikahan jika difungsikan sebagaimana mestinya. Tanpa arahan dan pemahaman yang tepat, keberadaan mereka justru bisa terkesan hanya ikut-ikutan, bukan sebagai penunjang suksesnya acara.
Editor : Jauhar Yohanis