JP RADAR NGANJUK-Di era serba cepat seperti sekarang, komunikasi melalui pesan singkat menjadi salah satu cara paling populer untuk berinteraksi.
Mulai dari WhatsApp, Telegram, hingga media sosial seperti Instagram dan X (Twitter), hampir setiap orang mengandalkan fitur chat untuk bertukar informasi. Namun, di balik kemudahan dan kecepatannya, muncul fenomena yang cukup menarik: bahasa singkat ala chat.
Baca Juga: 7 Skill yang Tidak Akan Lekang oleh Waktu
Bentuk bahasa ini ditandai dengan penggunaan singkatan atau pemendekan kata, seperti "aq" untuk "aku", "km" untuk "kamu", "skrg" untuk "sekarang", atau bahkan singkatan yang diadopsi dari bahasa Inggris seperti "brb" (be right back) atau "lol" (laugh out loud).
Bahasa singkat ini muncul karena adanya keinginan untuk mengetik lebih cepat, menghemat waktu, dan terkadang untuk memberikan kesan santai atau gaul.
Baca Juga: Cerpen di TikTok: Sastra Secepat Geseran Layar
Bahasa singkat lahir dari kebutuhan efisiensi. Saat harus membalas pesan dengan cepat atau mengetik di perangkat dengan papan ketik kecil, singkatan terasa menjadi solusi. Selain itu, kebiasaan ini juga dipengaruhi oleh budaya digital yang menuntut segala hal serba instan.
Di media sosial, semakin singkat pesan, semakin cepat pula interaksi yang bisa terjadi. Tidak heran, bentuk-bentuk seperti "btw" (by the way), "tq" (thank you), "nnti' (nanti), "bsk" (besok), atau "plis" (please) semakin akrab di telinga dan mata kita.
Baca Juga: Viral di TikTok! ‘Ordinary’ Jadi Lagu yang Bikin Pendengar Baper Massal
Namun, penggunaan bahasa singkat yang berlebihan menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat mengikis keterampilan berbahasa baku, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Sering kali, bahasa singkat terbawa ke situasi yang seharusnya formal, seperti saat menulis makalah, surat lamaran kerja, atau email resmi. Misalnya, menulis "sy" alih-alih "saya" dalam dokumen akademik dapat menurunkan kesan profesional dan membuat tulisan terlihat kurang serius.
Meski begitu, fenomena ini tidak selalu berdampak negatif. Dalam konteks santai, bahasa singkat justru bisa mempererat hubungan karena terasa akrab dan personal. Seseorang harus mampu membedakan kapan bahasa singkat bisa digunakan, dan kapan harus kembali ke bahasa baku yang sesuai kaidah.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya komunikasi, bahasa singkat kemungkinan besar akan tetap ada. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan: memanfaatkan kepraktisannya tanpa mengorbankan kemampuan berbahasa yang baik dan benar. Dengan begitu, efisiensi tetap tercapai, tapi keterampilan berbahasa tidak ikut "terpangkas".
Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis