Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Tak Posting Apa-Apa, Dicap Tone Deaf: Memahami Istilah yang Lagi Ramai

Internship Radar Kediri • Minggu, 7 September 2025 | 04:15 WIB
tidak posting apa apa dicap tone deaf
tidak posting apa apa dicap tone deaf

JP RADAR NGANJUK-Di era digital, satu unggahan di media sosial bisa bermakna besar. Bahkan sebaliknya, tidak mengunggah apa-apa pun bisa memicu tafsir publik. Diam kerap dianggap sebagai tanda tidak peduli. Tidak jarang, orang yang memilih bungkam malah dicap tone deaf.

Awalnya, tone deaf merujuk pada kondisi medis amusia, yaitu ketidakmampuan seseorang membedakan tinggi rendah nada. Orang dengan kondisi ini sering dianggap “sumbang” saat bernyanyi, meski tetap bisa menikmati musik (Kompas Tekno, 2024).

Seiring perkembangan, istilah ini keluar dari ranah musik dan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di dunia digital. Kompas.com (2025) menyebut bahwa tone deaf kini dipakai untuk menggambarkan sikap seseorang yang “tidak peka terhadap norma atau keadaan sosial”. Sementara itu, Medcom (2024) menuliskan bahwa istilah ini juga digunakan untuk menunjuk sikap yang seolah “kejam karena tidak peduli pada sesama”.

Fenomena ini terasa nyata di media sosial. Saat publik ramai membicarakan isu kemanusiaan atau tengah berduka karena bencana, banyak yang berharap agar setiap orang terutama figur publik ikut menunjukkan empati lewat unggahan. Ketika yang bersangkutan diam saja, publik menafsirkan sikap itu sebagai ketidakpedulian. Bahkan, psikolog klinis Ella Titis Wahyuniansari menegaskan bahwa tone deaf dalam makna metaforis berarti seseorang “tidak peduli dan tidak mau tahu tentang apa yang sedang terjadi di sekitarnya” (DetikHealth, 2024).

Namun, diam di dunia maya tidak selalu berarti acuh. Bisa jadi seseorang belum menemukan kata yang tepat, memilih mengekspresikan empati secara pribadi, atau sengaja menahan diri agar tidak salah ucap. Sayangnya, di ruang publik digital yang serba cepat, ketidakhadiran sering kali justru dibaca sebagai sikap dingin.

Selain diam, unggahan yang salah waktu juga kerap dianggap tone deaf. Kumparan (2024) menulis bahwa orang yang dicap demikian biasanya terlihat “sulit memahami perasaan orang lain”. Bayangkan, ketika masyarakat sedang berduka, lalu ada akun yang mengunggah konten liburan atau promosi yang terlalu ceria. Reaksi warganet pun biasanya keras: “Kok bisa-bisanya posting ini sekarang, benar-benar tone deaf.”

Dalam rubrik Klasika, Kompas (2024) bahkan menegaskan bahwa orang yang mendapat label tone deaf sering kali dianggap arogan, abai, dan kurang memiliki kecerdasan emosional. Pandangan ini menunjukkan bahwa istilah tersebut bukan sekadar olok-olok, melainkan penilaian serius terhadap sikap sosial seseorang.

Contoh dalam keseharian pun mudah ditemukan. Di grup WhatsApp keluarga, ketika ada anggota yang tertimpa musibah, biasanya semua orang mengirim ucapan duka. Namun, ada saja yang tidak menulis apa-apa. Diam itu lalu dianggap aneh, bahkan bisa menimbulkan komentar miring. Dalam rapat kerja, suasana serius bisa mendadak canggung jika ada yang melempar candaan. Alih-alih mencairkan suasana, sikap itu justru dianggap tidak nyambung, persis seperti label tone deaf di dunia maya.

Contoh Kasus yang Sering Terjadi

  1. Brand yang Salah Timing Beberapa perusahaan pernah menuai kritik karena meluncurkan kampanye promosi di saat yang tidak tepat. Misalnya, ketika masyarakat sedang resah karena isu sosial, iklan yang terlalu heboh dan penuh keceriaan dianggap tone deaf.
  2. Selebritas yang Terlihat Cuek Figur publik sering menjadi sorotan karena setiap postingannya diperhatikan. Saat publik menuntut solidaritas, unggahan yang dianggap “tidak nyambung” bisa segera menuai kritik keras.
  3. Diam di Saat Semua Bicara Ada kalanya, sikap diam dipandang bijak. Namun di media sosial, diam bisa disalahartikan sebagai “tidak peduli”. Inilah yang membuat banyak orang berada di posisi serba salah: posting salah → dibilang tone deaf, tidak posting → tetap dibilang tone deaf.

Belajar Peka, Kunci Menghindari Tone Deaf

Agar tidak dicap tone deaf, ada beberapa hal yang bisa dipelajari oleh rakyat, pejabat maupun publik figur:

  1. Membaca Situasi Selalu perhatikan konteks sosial sebelum berbicara atau memposting sesuatu.
  2. Pilih Waktu yang Tepat Respon cepat dalam tragedi penting, namun tetap dengan kata-kata yang bijak.
  3. Bangun Empati Tulus Ucapan tanpa hati hanya terdengar formal. Publik menuntut keaslian dan kepedulian nyata.
  4. Dengar Suara Publik Media sosial bisa menjadi cermin aspirasi. Jangan abaikan komentar warganet, meski keras.

Meski bernuansa negatif, cap tone deaf sebetulnya bisa menjadi pengingat penting. Era digital menuntut kepekaan sosial yang lebih tinggi dibanding sebelumnya. Apa pun yang kita lakukan bahkan diam sekalipun bisa diartikan macam-macam. Namun, bukan berarti setiap orang harus selalu bersuara di ruang publik. Justru di sinilah empati menjadi kunci. Ada kalanya lebih bijak menahan diri, memberi dukungan secara personal, atau menunggu momen yang lebih tepat.

Pada akhirnya, istilah tone deaf mengingatkan kita bahwa komunikasi bukan hanya soal kata, tetapi juga soal rasa. Media sosial mendorong orang untuk cepat bereaksi, tapi kepekaan tetap lebih utama daripada sekadar ikut bicara. Diam boleh saja, asal dibarengi dengan kepedulian yang nyata. Karena kadang, empati yang sederhana jauh lebih berharga daripada unggahan yang terburu-buru.

 

Referensi

 

Penulis: Annisa Aulia Mujiono-Universitas Negeri Surabaya

 

Editor : Miko
#Negara #viral #tone deaf #demo #sosial #PEDULI