Kondisi Rusak Parah, Calon Pembeli Tak Peduli
NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Mobil Grand Livina milik Dean Aulia Diah Ulhaq, 21, warga Kelurahan Bogo, Kecamatan Nganjuk, yang rusak parah akibat terjun ke sungai, justru diburu banyak calon pembeli.
Kendaraan yang menjadi saksi bisu kematian tragis Dean pada awal Mei lalu itu kini menyedot perhatian warga.
Banyak yang Ingin Membeli Mobil
Peminat Tak Terpengaruh Kerusakan Mobil
Meski mobil berwarna silver tersebut dalam kondisi rusak berat, animo masyarakat untuk memilikinya justru tinggi.
Sejak mobil itu dibawa pulang dari Satlantas Polres Nganjuk, beberapa orang datang langsung untuk menawar.
“Banyak yang menawar ingin membeli mobil itu,” ujar Etik Sri Rahayu, ibu kandung Dean, saat ditemui Radar Nganjuk.
Kondisi fisik kendaraan sangat memprihatinkan. Kaca pecah, bodi penyok, dan spion patah.
Bahkan mobil tersebut kini ditutup terpal karena kerusakan yang cukup serius. Namun demikian, hal tersebut tidak menyurutkan niat para calon pembeli.
Baca Juga: Dean Terus Datangi Ibu lewat Mimpi, Berharap Hasil dari Otopsi Bisa Ungkap Penyebab Kematian
Etik Bingung Hadapi Banyaknya Tawaran
Etik mengaku bingung menghadapi banyaknya penawaran. Pasalnya, ia dan keluarga belum memikirkan untuk menjual kendaraan tersebut. Mobil itu masih dianggap sebagai bagian penting dari proses hukum yang sedang berjalan.
“Mobil itu belum diperbaiki sama sekali. Tapi banyak yang tetap minat, saya jadi bingung,” tuturnya.
Belum Ada Niat Menjual Mobil
Menunggu Hasil Otopsi Sebelum Ambil Keputusan
Menurut Etik, saat ini dirinya belum berencana menjual mobil itu karena menunggu hasil otopsi jenazah Dean.
Ia khawatir jika hasil otopsi mengarah pada dugaan pembunuhan, maka mobil tersebut dapat menjadi barang bukti penting untuk mengungkap pelaku.
“Saya takut nanti kalau dijual, malah polisi kesulitan kalau memang itu barang bukti,” jelasnya.
Karena itu, mobil tersebut masih disimpan dalam kondisi apa adanya, tanpa diperbaiki sedikit pun.
Ia juga mengaku masih belum bisa tenang sebelum ada kepastian penyebab kematian anaknya.
Hasil Otopsi Masih Belum Keluar
Keluarga Masih Menanti Informasi Resmi dari Polda
Etik mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada kabar terbaru dari pihak kepolisian mengenai hasil otopsi Dean.
Proses otopsi yang dilakukan setelah pembongkaran makam pada awal Juni itu belum memberikan jawaban atas misteri yang masih menyelimuti kematian Dean.
“Dari Polda Jatim belum ada informasi apa-apa sampai sekarang,” ungkap Etik.
Dugaan Kematian Masih Simpang Siur
Kematian Dean yang terjadi pada 2 Mei 2025 di sungai Desa Sugihwaras, Kecamatan Bagor, masih menjadi tanda tanya.
Dugaan awal menyebutkan bahwa Dean mengalami kecelakaan tunggal. Namun, keluarga kini mulai meragukan hal tersebut.
Etik mengatakan, awalnya ia menerima kabar bahwa anaknya meninggal karena kecelakaan.
Namun, perasaannya berubah setelah beberapa kali Dean muncul dalam mimpinya.
Baca Juga: Makam Dean Berserakan! Ibu Langsung Merapikan Setelah Didatangi Dalam Mimpi
Pesan Dean dalam Mimpi Sang Ibu
Permohonan Otopsi Diajukan Setelah Mimpi
Etik merasa ada sesuatu yang belum tuntas dari kematian anaknya. Terlebih lagi, dalam mimpi, Dean seolah memberi isyarat meminta pertolongan.
Hal inilah yang mendorong Etik untuk mengajukan permintaan otopsi ke Polda Jatim.
“Saya ajukan permintaan pembongkaran makam dan otopsi lewat DM ke media sosialnya Polda Jatim,” ujarnya.
Mimpi tersebut semakin memperkuat keyakinan Etik bahwa ada kejanggalan dalam peristiwa yang menimpa anak sulungnya itu.
Ia pun memutuskan untuk mencari keadilan dengan jalur hukum.
Harapan Etik: Kematian Dean Bisa Terungkap
Kini, Etik hanya berharap satu hal: kebenaran. Ia ingin tahu dengan pasti, apa yang sebenarnya terjadi pada Dean malam itu.
Apakah benar-benar kecelakaan, atau ada pihak lain yang terlibat?
“Semoga kematian anak saya bisa terungkap kebenarannya,” harapnya lirih.
Baca Juga: Dean Terus Datangi Ibu lewat Mimpi, Berharap Hasil dari Otopsi Bisa Ungkap Penyebab Kematian
Mobil Jadi Simbol Perjuangan
Bukan Sekadar Kendaraan, Tapi Saksi Bisu
Mobil Grand Livina itu kini bukan hanya sekadar kendaraan. Ia menjadi simbol dari perjuangan seorang ibu yang ingin mencari keadilan bagi anaknya.
Meski banyak yang ingin membelinya, Etik tetap bersikukuh untuk menahannya hingga kebenaran terungkap.
Dengan kondisi rusak berat dan ditutup terpal, mobil itu diam di halaman rumah, seakan menunggu satu hal: kejelasan. (nov/tyo)
Editor : Miko