Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Remisi untuk Nikmati Hari Tua Bersama Keluarga

Novanda Nirwana • Sabtu, 27 Desember 2025 | 01:28 WIB

DAPAT REMISI NATAL: Subianto menerima pengurangan hukuman karena berkelakuan baik.
DAPAT REMISI NATAL: Subianto menerima pengurangan hukuman karena berkelakuan baik.

Subianto, Lansia Warga Binaan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Nganjuk saat Natal 

Usia Subianto sudah menginjak 70 tahun. Rambutnya memutih, suaranya pelan, namun raut wajahnya tampak tenang. Natal tahun ini kembali dia rayakan di balik tembok rutan. Ini adalah Natal keduanya jauh dari rumah, jauh dari kehidupan yang dulu ia kenal di kampung halamannya, Gunungkidul.

NOVANDA NIRWANA-NGANJUK, JP Radar Nganjuk

“Kalau dibilang kangen keluarga, ya pastinya kangen,” ujarnya lirih, sembari tersenyum tipis. Rindu itu, kata Subianto, sedikit terobati. Dua anaknya masih setia menjenguk. Dua anaknya tinggal di Kabupaten Nganjuk, sehingga kunjungan bisa dilakukan bergantian. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali. Bahkan keluarga dari Kediri pun sesekali menyempatkan datang. “Kadang anak, kadang keluarga yang dari Kediri,” katanya.

Natal kali ini terasa lebih hangat bagi Subianto. Ia mendapat remisi satu bulan.

Bagi sebagian orang, sebulan mungkin singkat. Namun bagi Subianto, yang harus menjalani hukuman panjang, sangat berarti. “Pastinya senang. Apalagi hukuman saya kan lama, jadi saya harus rajin mengumpulkan remisi,” ujarnya.

Remisi bukan sekadar pengurangan masa pidana. Bagi Subianto, itu adalah jarak yang semakin pendek menuju rumah. “Supaya kepulangan saya lebih cepat. Biar cepat ketemu keluarga,” ucapnya.

Kesadaran itu pula yang membuatnya memilih jalan tenang selama menjalani pembinaan. Ia berusaha menikmati hari-hari di dalam rutan, menjaga sikap, dan tidak membuat masalah. “Makanya di sini enjoy aja. Yang penting tidak macam-macam,” katanya.

Menurutnya, berkelakuan baik adalah tantangan tersendiri. Sebab satu pelanggaran bisa berarti hilangnya kesempatan mendapatkan remisi. “Kalau melanggar, ya tidak dapat remisi,” ujarnya.

Satu tahun lebih berada di balik jeruji memberi banyak pelajaran hidup. Bagi Subianto, kunci bertahan adalah kemampuan menyesuaikan diri, baik dengan sesama warga binaan maupun petugas. “Yang penting menyesuaikan diri. Pikiran dan hati harus jadi lebih baik,” katanya.

Ia belajar menerima keadaan. Tidak menjadikan hukuman sebagai beban, melainkan proses pembelajaran. “Menerima, enjoy saja. Jangan dibuat beban. Kalau dipikirin terus yang ada malah bikin sakit,” tambahnya.

Di usia senja, Subianto tidak lagi memimpikan hal besar. Jika kelak bebas, ia hanya ingin menikmati masa tua dengan tenang, dekat dengan keluarga. Ia berjanji pada dirinya sendiri, kesalahan ini adalah yang terakhir. “Ini terakhir kalinya saya melakukan kesalahan,” ucapnya.

Ia sadar, apa yang dialaminya hari ini adalah konsekuensi dari perbuatannya di masa lalu. Natal di balik jeruji ini menjadi momen refleksi tentang penerimaan, penyesalan, dan harapan untuk menjadi manusia yang lebih baik. “Ini kesalahan saya. Jadi ingin menjadi lebih baik,” pungkasnya. (tyo)

 

Editor : Karen Wibi
#remisi #nganjuk #natal