Awalnya Hanya Jualan Hewan, Sekarang Jadi Pusat Perbelanjaan
Novanda Nirwana• Senin, 10 November 2025 | 18:37 WIB
KUNO-KINI: Penjual angkringan di Pasar Wage Baru menunggu pembeli saat malam hari (foto kiri).
Melihat Kondisi Pasar Wage Lama dan Pasar Wage Baru
Pasar Wage di Kecamatan Nganjuk memiliki sejarah yang sangat panjang. Bermula dari pasar hewan, kini Pasar Wage jadi pusat perbelanjaan di Kabupaten Nganjuk. Namun nasib Pasar Wage tak seindah dulu. Pasar Wage mulai ditinggal oleh masyarakat di Kota Angin.
SIAPA yang tidak kenal dengan Pasar Wage. Pasar yang berada di Kecamatan Nganjuk itu sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Selama itu juga Pasar Wage menjadi jujugan dalam melakukan transaksi jual beli.
Namun diketahui Pasar Wage saat ini sangat berbeda dengan Pasar Wage dahulu. Dahulu Pasar Wage adalah pasar hewan. Kata “Wage” dalam nama Pasar Wage ternyata berasal dari tradisi pasaran Jawa, yang dulu menjadi penanda hari buka pasar.
Hal itu diceritakan Tariah, 83, pedagang asal Bogo yang sudah berjualan di Pasar Wage sejak era 1980-an. Dia masih mengingat jelas bagaimana pasar itu beroperasi di masa awal berdirinya.“Dulu awalnya di sini pasar hewan, pasar sapi sama wedhus. Bukanya cuma setiap pasaran Wage,” tuturnya.
Penjual sayuran dan buah di Pasar Wage Lama berjualan mulai pagi hingga sore.
Menurut Tariah, di masa itu area pasar terbagi dua. Sisi yang menjadi lokasi transaksi hewan hanya buka pada hari Wage, sementara bagian lainnya merupakan pasar umum yang buka setiap hari. Baru pada era 1970-an, seluruh kawasan tersebut digabung menjadi satu dan dikelola sebagai satu pasar besar. Hingga akhirnya dikenal dengan nama Pasar Wage seperti sekarang.
Tariah mengisahkan betapa ramainya pasar tersebut di masa jayanya. Jalan setapak dipadati pembeli hingga nyaris tidak bisa bergerak bebas. “Dulu itu pasar pasti ramai banget, mesti senggolan, mepet-mepetan sama orang. Istilahnya, ayo neng pasar golek senggolan,” kenangnya sambil tersenyum.
Namun, kondisi itu jauh berbeda dengan situasi pasar saat ini. Dia menyebut keramaian mulai menurun sejak munculnya penjual pinggir jalan dan maraknya jual beli online. Fenomena itu membuat masyarakat lebih memilih belanja tanpa harus datang ke pasar. “Sekarang lari di dalam pasar saja gak nyenggol blas,” jelasnya.
BERSEJARAH: Pasar Wage Lama masih beroperasi hingga saat ini. Awalnya hanya jualan hewan ternak.
Menurutnya, mulai zaman online itu sepi. Selain itu, di pinggir jalan banyak yang jualan, sehingga memudahkan para pembeli. “Orang-orang jadi malas masuk pasar,” tambahnya.
Bahkan, menurut Tariah dulu ketika orang-orang dikasih uang suami langsung ke pasar untuk berbelanja. Lain halnya dengan sekarang. “Sekarang lebih milih nunggu di rumah, soalnya ada jualan sayur keliling. Apalagi online, tinggal telepon langsung datang makanannya,” ungkapnya.
Meski begitu, Tariah masih setia menempati lapaknya. Ia yang dulu memulai usaha dengan berjualan empon-empon berharap Pasar Wage bisa kembali ramai seperti masa lalu, menjadi pusat interaksi masyarakat sekaligus penggerak ekonomi lokal. (nov/wib)