Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

ODHA Kota Angin Masih Kucing-kucingan dengan Dinas Kesehatan

Novanda Nirwana • Selasa, 30 Desember 2025 | 02:34 WIB

ODHA Kota Angin Masih Kucing-kucingan dengan Dinas Kesehatan
ODHA Kota Angin Masih Kucing-kucingan dengan Dinas Kesehatan

DINAS Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nganjuk terus berusaha keras untuk menekan angka penderita HIV/AIDS di Kota Angin. Namun Dinkes Nganjuk seringkali menghadapi kendala. Salah satunya yaitu orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang sering menghilang. Entah itu setelah didiagnosis, saat menjalani perawatan, maupun setelah pengobatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk dr. Tien Farida Yani melalui Penanggung Jawab Program HIV/AIDS Nikke Nuriaty menjelaskan, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam pengendalian HIV/AIDS di daerah. “Ada pasien yang sudah didiagnosis lalu tidak melanjutkan kontrol, ada juga yang hilang di tengah perawatan, bahkan setelah pengobatan,” ujar Nikke.

Untuk mengatasi hal itu, Dinkes Nganjuk melakukan penelusuran ODHA yang hilang melalui jejaring layanan di setiap kecamatan. Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan puskesmas dan bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang selama ini bergerak di isu HIV/AIDS.

Meski menghadapi kendala, upaya pencegahan dan deteksi dini tetap berjalan. Skrining HIV dilakukan secara rutin setiap bulan di berbagai fasilitas layanan kesehatan. Saat ini, Nganjuk telah memiliki 44 layanan konseling dan tes HIV, serta 19 layanan pengobatan ARV yang tersebar di sejumlah wilayah. “Terkait layanan, sebenarnya sudah cukup luas. Tantangannya lebih pada penjangkauan pasien, terutama yang masuk dalam populasi kunci,” ungkap Nikke.

Dia mencontohkan, penjangkauan terhadap pekerja seks perempuan (WPS) maupun transgender masih menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Mobilitas tinggi serta perilaku berisiko yang berulang membuat potensi penularan tetap ada meski sudah dilakukan pemeriksaan.

“Kalau setelah diperiksa lalu kembali melakukan hubungan berisiko, tentu potensi penularannya tetap tinggi. Ini yang terus kami edukasi,” tambahnya.

Sebagai langkah menekan kasus baru, Dinkes Nganjuk terus mendorong skrining sedini mungkin disertai sosialisasi masif. Edukasi tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga mulai difokuskan ke pelajar tingkat SMP dan SMA. “Pencegahan harus dimulai sejak dini. Karena itu kami masuk ke sekolah-sekolah agar generasi muda punya pemahaman yang benar tentang HIV/AIDS,” pungkasnya. (nov/wib)

Editor : Karen Wibi
#hiv/aids #nganjuk