Novanda Nirwana• Rabu, 4 Februari 2026 | 19:43 WIB
KULINER LEGENDARIS: Sate Sor Nongko dikenal murah. Pemilik ngaku ingin sedekah.
Mencicipi Sate Sor Nongko, Kuliner Legendaris Kota Angin
Sate Sor Nongko menjadi salah satu sate legendaris di Kota Angin. Warung yang berada di bawah pohon nangka itu terkenal karena harganya yang murah dan rasanya yang mantap. Ternyata, di balik harga murah itu, Indartik, pemilik Warung Sate Sor Nongko memiliki niat mulia.
NOVANDA NIRWANA - NGANJUK, JP Radar Nganjuk
Asap tipis mengepul dari tungku sederhana di bawah pohon nangka. Dari tempat itulah nama Sate Sor Nongko berasal. Lapak yang dulu nyaris luput dari perhatian ini, kini justru jadi tujuan kuliner wajib di Nganjuk. Viral, ramai, bahkan bus luar kota pun tak jarang berhenti sejenak demi mencicipi seporsi sate murah meriah.
Di balik ramainya pembeli, ada sosok Indartik, pemilik sekaligus penerus usaha sate yang sudah berjalan sejak 2003. Perempuan berusia 47 tahun ini mengungkapkan, awal mula berjualan tak langsung sate daging seperti sekarang. “Dulu itu awalnya jualan sate lemak dan ati, biar beda,” tuturnya.
Baru setelah itu, dia mulai menjual sate beneran dalam arti sate daging, mengikuti selera pelanggan. Perjalanan panjang itu dimulai dari lapak keluarga.
Mertua Indartik sebelumnya berjualan nasi pecel, soto ayam, dan soto daging. Namun ketika sang mertua jatuh sakit, Mbak In-panggilan akrab Indartik memilih meneruskan usaha. Dari sanalah prinsip berdagang yang ia pegang hingga kini mulai tertanam. “Satu yang saya pegang, jualan sambil ibadah,” ujarnya.
Harga di Sate Sor Nongko memang terasa tak masuk akal di tengah mahalnya bahan pokok. Jika dulu sate dibanderol mulai Rp 5 ribu, kini sate kambing menu paling laris dijual Rp 26 ribu per porsi. Bahkan, makan sate lengkap dengan minum cukup merogoh kocek Rp 23 ribu. “Ditanya rugi apa enggak, buktinya sampai sekarang masih berjalan,” ujar Indartik.
Prinsip ibu dua anak ini sederhana. Jangan memberatkan orang. “Ada juga orang tidak punya banyak uang tetapi ingin makan sate. Makanya, saya kasih harga murah,” ungkapnya.
Larisnya Sate Sor Nongko terjadisetelah warung ini ramai di media sosial. Banyak pengunjung datang sambil membuat konten, lalu efeknya berantai. Getuk tular, menular dari mulut ke mulut dan layar ke layar. “Kalau ke sini itu banyak yang bikin konten. Akhirnya ramai. Ada juga bus luar kota mampir ke sini,” katanya.
Saat ramai, terutama akhir pekan, jumlah sate yang dibakar bisa tembus 3.000 tusuk, dengan sate kambing sebagai primadona. Sate ayam tetap ada, namun tak seramai kambing.
Yang membedakan Sate Sor Nongko, menurut Mbak In, bukan hanya rasa, tapi juga niat. Ia percaya rezeki akan datang jika berdagang dengan hati. “Harga murah ini juga sebagai sedekah agar berkah,” ucapnya.
Warung sederhana itu buka setiap hari, mulai pukul 09.00 hingga 15.30. Tak ada papan besar atau dekorasi mencolok. Namun, di bawah pohon nangka itu, Sate Sor Nongko menjelma lebih dari sekadar tempat makan. (tyo)