Kepergian Mbok Yem, Legenda Penjaga Warung Puncak Gunung Lawu
Elna Malika• Kamis, 24 April 2025 | 00:21 WIB
Kepergian Mbok Yem, Legenda Penjaga Warung Puncak Gunung Lawu
JP Radar Nganjuk - Dunia pendakian Indonesia berduka. Wakiyem, atau yang lebih dikenal dengan nama Mbok Yem, sosok legendaris yang selama puluhan tahun menjaga warung tertinggi di Indonesia di puncak Gunung Lawu, telah berpulang.
Pada Rabu, 23 April 2025, Mbok Yem menghembuskan napas terakhir di kediamannya di Dusun Dagung, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Magetan, Jawa Timur, pada usia 82 tahun.
Kabar kepergiannya menyebar cepat, menyisakan kesedihan mendalam di hati para pendaki dan pencinta alam yang pernah merasakan kehangatan senyum dan sajian sederhananya.
Mbok Yem bukan sekadar penjual makanan dan minuman.
Warungnya, yang terletak di Hargo Dumilah pada ketinggian 3.150 meter di atas permukaan laut, hanya 115 meter dari puncak Gunung Lawu, menjadi simbol ketangguhan dan keramahan.
Selama lebih dari 40 tahun, ia setia melayani pendaki yang melewati jalur Cemoro Sewu maupun Cemoro Kandang.
Warung Mbok Yem dikenal sebagai tempat berlindung dari dinginnya udara pegunungan, menyediakan minuman hangat, gorengan, dan hidangan khas seperti pecel telur ceplok yang selalu dinanti.
Bagi pendaki, warung ini bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga sumber semangat untuk menaklukkan puncak Hargo Dumilah.
Kisah hidup Mbok Yem penuh inspirasi. Bermula sebagai penjual jamu yang mengumpulkan bahan-bahan alami di lereng Gunung Lawu bersama mendiang suaminya, ia kemudian mendirikan warung sederhana yang kini menjadi legenda.
Meski usianya tak lagi muda, Mbok Yem dikenal tegar. Ia pernah bertahan di warungnya saat kebakaran hutan melanda Gunung Lawu pada Oktober 2023, menolak turun meski api mengancam. Dedikasinya membuatnya dihormati, bahkan dianggap sebagai "penjaga" Gunung Lawu, baik secara fisik maupun spiritual oleh sebagian pendaki.
Namun, pada awal 2025, kesehatan Mbok Yem mulai menurun. Sejak Februari, ia mengalami keluhan, termasuk sakit gigi yang membuatnya sulit makan, hingga akhirnya jatuh beberapa kali di warungnya. Pada Maret 2025, ia terpaksa ditandu turun dari puncak untuk menjalani perawatan di RSU Aisyiyah Ponorogo. Dokter mendiagnosisnya menderita pneumonia akut, infeksi paru-paru yang menyerang saluran pernapasannya. Meski sempat membaik dan kembali berinteraksi dengan candaan khasnya, kondisinya tak lagi memungkinkan. Pada 23 April 2025, sekitar pukul 13.30 WIB, Mbok Yem menghembuskan napas terakhir di rumahnya, dikelilingi keluarga dan kenangan akan pengabdiannya.
Kepergian Mbok Yem meninggalkan luka di hati ribuan pendaki. Media sosial dipenuhi ungkapan belasungkawa, dengan banyak pendaki mengenang momen saat disambut senyum ramahnya atau menghangatkan diri di warungnya. “Selamat jalan, Mbok Yem. Warungmu adalah rumah bagi kami di puncak Lawu,” tulis seorang pendaki di X. Pelayat memadati rumah duka, menunjukkan betapa besar pengaruhnya bagi komunitas pendakian.
Mbok Yem dimakamkan di Magetan, tak jauh dari gunung yang menjadi bagian hidupnya. Warungnya, yang tetap beroperasi meski ia sakit, kini menjadi monumen hidup akan ketangguhannya. Kisah Mbok Yem akan terus dikenang, bukan hanya sebagai penjaga warung, tetapi sebagai legenda Gunung Lawu yang menghangatkan hati setiap pendaki dengan kebaikan dan keteguhannya.