Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Konflik India Pakistan Kembali Memuncak, Serangan Udara Terjadi Dimana Mana

Internship Radar Kediri • Jumat, 9 Mei 2025 | 08:30 WIB
Bendera Pakistan dan India
Bendera Pakistan dan India

Nganjuk, JP Radar Nganjuk - Pada 8 Mei 2025, ketegangan antara India dan Pakistan kembali mencapai puncaknya setelah India melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah Pakistan, termasuk Kashmir dan Punjab.

Langkah agresif ini dilakukan sebagai respons atas insiden 22 April 2025, ketika sebuah serangan mematikan terjadi di kota Pahalgam, India, menewaskan 26 orang, sebagian besar di antaranya adalah wisatawan Hindu. India langsung menyalahkan kelompok militan yang berbasis di Pakistan sebagai dalang serangan tersebut, meskipun pihak Pakistan dengan tegas membantah keterlibatan mereka dalam insiden tragis itu.

Sebagai tindakan balasan atas serangan udara India, Pakistan dengan sigap menembak jatuh lima pesawat tempur India, yang terdiri dari tiga jet Rafale, satu unit MiG-29, dan satu SU-30. Insiden ini segera memicu kecaman dari berbagai pihak, dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa langkah yang diambil oleh India adalah bentuk provokasi yang keterlaluan dan tidak dapat diterima, serta dapat berujung pada konsekuensi serius bagi stabilitas kawasan.

Di sisi lain, Perdana Menteri India, Narendra Modi, menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan tinggal diam dan akan terus mengejar para pelaku serangan, bahkan jika harus mengejar mereka hingga ke ujung dunia.

Konflik berkepanjangan antara kedua negara ini tidak terlepas dari sengketa lama terkait wilayah Kashmir, yang telah menjadi sumber perselisihan sejak pemisahan India dan Pakistan pada tahun 1947.

Perdebatan semakin memanas setelah India mencabut status semi-otonom Kashmir pada 2019, yang menyebabkan gelombang protes besar-besaran dari masyarakat Muslim di wilayah tersebut. Sejak saat itu, ketegangan antara India dan Pakistan tidak pernah benar-benar mereda dan justru terus berkembang menjadi konflik yang lebih kompleks.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyerukan agar kedua negara menunjukkan tindakan menahan diri dan mencari solusi melalui jalur diplomasi agar tidak semakin memperburuk situasi. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan keprihatinannya terhadap perkembangan konflik ini dan berharap ketegangan bisa segera mereda sebelum berujung pada perang terbuka. Negara-negara besar seperti Inggris, Prancis, Jerman, Iran, Turki, Qatar, dan UEA juga menyampaikan harapan agar India dan Pakistan segera kembali ke meja perundingan untuk mencari penyelesaian yang lebih damai.

Yang menjadi perhatian adalah fakta bahwa India dan Pakistan sama-sama memiliki persenjataan nuklir, yang menjadikan konflik ini jauh lebih berbahaya dibandingkan perselisihan biasa.

Jika tidak segera dikendalikan, pertempuran ini berpotensi berkembang menjadi perang berskala besar yang tidak hanya mengancam keamanan kedua negara, tetapi juga stabilitas global secara keseluruhan. Meskipun dalam sejarahnya konflik antara India dan Pakistan sering kali mencapai titik panas, jalur diplomasi tetap menjadi harapan utama dalam mencegah pertempuran besar yang akan membawa dampak buruk bagi jutaan orang.

Penulis: Laila Karima

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#india #radar nganjuk #konflik #pakistan