JP Radar Nganjuk – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperkirakan musim kemarau tahun ini akan berlangsung dari Mei hingga Agustus, dengan puncaknya terjadi pada bulan Juni hingga Agustus.
Namun, realita di lapangan justru berbanding terbalik.
Sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk sebagian Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah, masih diguyur hujan intensitas sedang hingga lebat, bahkan disertai petir.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG menyebut, awal musim kemarau memang diperkirakan dimulai sejak April hingga Juni di sebagian besar wilayah Indonesia.
Total ada 403 zona musim (ZOM) yang diprediksi akan masuk kemarau dalam rentang tersebut.
Prediksi ini didasarkan pada data historis serta model iklim skala global yang dimiliki BMKG.
Namun, dinamika atmosfer ternyata berkata lain.
Menurut Kepala Pusat Informasi Iklim BMKG, cuaca tropis memang sangat dinamis. Perubahan pola angin, suhu muka laut, hingga keberadaan awan konvektif dapat memicu hujan lokal. meskipun secara umum sedang berada di musim kemarau.
BMKG juga menegaskan bahwa prediksi musim kemarau tahun ini tidak berada dalam pengaruh kuat El Niño maupun La Niña.
Iklim Indonesia tahun ini dikategorikan normal, tanpa anomali signifikan dari Samudra Pasifik maupun Hindia.
Tapi ketidakpastian iklim tetap menjadi tantangan dalam membuat prakiraan jangka panjang.
Selain itu, kondisi mikroklimat dan variabel lokal sangat mungkin menyebabkan hujan turun, meskipun secara regional dinyatakan musim kemarau.
Hal ini juga dikarenakan prediksi cuaca bukan ramalan mutlak, melainkan hasil pengolahan data dan model statistik yang punya peluang salah, terutama ketika cuaca berubah cepat.
BMKG pun mengimbau masyarakat tetap memantau perkembangan cuaca harian yang lebih akurat, dibanding hanya berpegang pada prediksi musiman.
Penulis: Effa Desiana Hidayah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira