RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengeluarkan peringatan keras terkait fenomena iklim global yang kian mengkhawatirkan. Fenomena El Niño tahun ini diprediksi bukan sekadar cuaca ekstrem biasa, melainkan berpotensi kuat menjadi "Super El Nino" yang akan memicu krisis sosial dan ekologis mendalam di wilayah pesisir serta kepulauan Indonesia.
Berdasarkan data terbaru dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), peluang kemunculan El Niño mencapai 82% pada periode Mei–Juli 2026, dan melonjak hingga 96% untuk terus berlanjut hingga awal 2027. Sejumlah model iklim global bahkan memproyeksikan kenaikan suhu permukaan laut bisa melampaui 1,5 derajat Celsius hingga 3,3 derajat Celsius. Jika tren ini terus berjalan, 2027 dibayangi risiko menjadi tahun terpanas dalam sejarah peradaban manusia.
Baca Juga: Cuaca Nganjuk, Waspada Hujan selama Sepakan
Kajian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa El Niño dapat memperkuat fenomena upwelling (naiknya air laut dingin yang kaya nutrien dari dasar ke permukaan) di sepanjang selatan Jawa hingga barat Sumatra. Kondisi ini memicu pertumbuhan fitoplankton dan berpotensi meningkatkan produktivitas perikanan.
Namun, WALHI mengingatkan agar pemerintah tidak terkecoh oleh lonjakan stok ikan tersebut. Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut WALHI, Mida Saragih, menegaskan aspek pentingnya keadilan kelautan (blue justice).
Baca Juga: Update Cuaca Nganjuk Hari Ini: BPBD Ingatkan Potensi Angin Kencang 37 Km/Jam
“Dalam perspektif keadilan kelautan, pertanyaan utamanya bukan hanya ‘ikan bertambah’, tetapi siapa yang bisa mengaksesnya, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang malah tersingkir. Tanpa tata kelola yang adil, fenomena ini justru berpotensi mendorong perampasan ruang hidup,” ujar Mida dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/5/2026).
Pada realitasnya, wilayah laut yang kaya ikan tersebut justru lebih mudah dieksploitasi oleh armada industri besar yang memiliki modal dan teknologi canggih. Sebaliknya, nelayan tradisional dan masyarakat pesisir kian terpinggirkan akibat ekspansi industri berbasis sumber daya alam.
Baca Juga: Waspada Cuaca Buruk! Nganjuk Bakal Diguyur Hujan Deras dan Angin Kencang
Kerentanan Pulau Kecil dan Solusi Semu
WALHI menyoroti bahwa dampak El Niño berupa kekeringan parah, gagal panen, dan krisis air bersih akan langsung menghantam wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Kerentanan ini kerap diperparah oleh kebijakan pembangunan yang eksploitatif dan berbasis "solusi semu".
Beberapa contoh ancaman nyata di tingkat tapak meliputi, proyek Geotermal di Kawasan Konservasi. Kegiatan ini bisa merusak stabilitas lingkungan lokal.
Revitalisasi perikanan yang destruktif justru mengorbankan dan merusak hutan mangrove. Kemudian eksploitasi berkedok pembangunan. Yakni menguras cadangan air tanah yang sudah terbatas di pulau-pulau kecil.
Menghadapi ancaman nyata Super El Niño 2026, WALHI mendesak pemerintah pusat dan daerah segera mengambil langkah konkret melalui strategi tingkat tapak:
1. Menerbitkan Rencana Tapak Penyelamatan: Fokus pada perlindungan wilayah kepulauan yang rentan terhadap krisis pangan dan air bersih.
2. Pemetaan Daerah Rawan Bencana: Menyusun peta mitigasi komprehensif untuk wilayah yang paling terancam kekeringan ekstrem.
3. Rehabilitasi Ekosistem Esensial: Memperluas pemulihan hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang secara masif.
4. Integrasi Regulasi Daerah: Memasukkan strategi penyelamatan ekosistem ini ke dalam perencanaan pembangunan daerah yang berkekuatan hukum.
"Konsensus lembaga iklim dunia sudah mengarah pada urgensi kesiapan menghadapi Super El Niño. Penghentian laju kerusakan lingkungan di kawasan rentan bencana adalah syarat mutlak kesiapsiagaan kita," pungkas Mida.
Editor : rekian