ADA-ada saja kejadian yang menimpa Boscu asal Kecamatan Tanjunganom. Pada Selasa lalu (9/12) dia harus merepotkan satu regu petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Nganjuk. Masalahnya sepele, Boscu tak bisa maruk ke rumahnya sendiri.
Loh kok bisa? Jadi, malam itu, Boscu berpamitan dengan sang istri. Boscu pamit keluar untuk nongkrong bersama teman-temannya. Sang istri lalu mengiyakan. Namun ada satu syarat yang harus dipenuhi. Boscu harus pulang tepat waktu. Yaitu, pukul 22.00 WIB.
Boscu tentu setuju. Pikirnya pasti dirinya bisa pulang tepat waktu. Namun, perkiraan Boscu keliru. Boscu pulang larut malam. Jika tidak salah mengingat, Boscu pulang sekitar pukul 00.30 WIB. Telat sekitar 2,5 jam dari jadwal yang sudah ditentukan. “Karena terlalu asyik mengobrol, saya akhirnya telat pulang,” ujarnya.
Hal itu tentu membawa masalah. Istrinya ngamuk. Dia memutuskan pergi dari rumah. Tujuannya pulang ke rumah orang tuanya. Pintu rumah dikunci. Sedangkan, Boscu tak diberitahu dimana letak persembunyian kunci. Lalu istri Boscu? Tentu saja sudah tidur waktu pukul 00.30 WIB.
Saat pulang, Boscu mendapati pintu rumah sedang dikunci. Saat digedor, tidak ada satu jawaban dari dalam rumah. Tentu Boscu panik. Karena panik, Boscu akhirnya meminta bantuan petugas damkarmat. “Saya minta petugas untuk membantu pintu rumah saya,” tambahnya.
Petugas dengan sigap datang ke lokasi. Proses evakuasi pintu yang tertutup langsung dilakukan. Namun bebarengan dengan itu, tetangga Boscu, memberitahu jika sang istri sudah pulang ke rumah asal.
Jawaban itu tentu membuat Boscu malu. Namun karena terlanjur ada petugas, mau tak mau, evakuasi tetap dilakukan. Beruntung, sekitar pukul 01.00, proses evakuasi pintu yang terkunci berhasil dilakukan.
Boscu tentu langsung bersyukur. Karena paling tidak, malam itu, dirinya bisa segera istirahat di dalam rumah. Namun di waktu yang bersamaan, Boscu masih merasa takut dan ngeri. Alasannya tidak hanya karena dia telat pulang ke rumah. Namun juga karena pintu rumah yang harus rusak karena evakuasi dari damkar. Biyuh-Biyuh. (wib/tyo)
Editor : Karen Wibi