Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Ekonomi & Bisnis Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah

Jelajah Desa Unik di Nganjuk: Wayang Timplong Menceritakan Sejarah Indonesia

Iqbal Syahroni • Jumat, 5 Januari 2024 | 17:26 WIB
Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Wayang Timplong Menceritakan Sejarah Indonesia
Wayang identik dengan cerita yang bersumber dari kitab Ramayana dan Mahabarata. Khusus Wayang Timplong, dalang memilih cerita yang berkaitan tentang sejarah Indonesia.Hal itu dilakukan agar penontonnya dapat mencerna pesan yang disampaikan dalang dengan mudah.

“Kadang ceritanya adalah sejarah Nganjuk,” ungkap Suyadi, dalang Wayang Timplong asal Desa Kepanjen, Pace. Sejak mengenal Wayang Timplong, lelaki 57 tahun itu lebih banyak mendapat porsi cerita tentang sejarah Indonesia. Ayahnya, Talam, lebih banyak mengenalkan dirinya pada para tokoh nasional serta peran mereka dalam sejarah kebangsaan. 

Yang tidak kali menarik dan membuat Suyadi jatuh cinta pada Wayang Timplong adalah pertunjukan bisa membawakan cerita rakyat. Dari situlah rasa cintanya pada warisan Mbah Bancol itu semakin erat.

Dia merasa perlu menekuni Wayang Timplong ini karena dianggap lebih dekat dengan masyarakat. Terutama mereka yang ikut menonton saat pertunjukkan. 

Sementara itu, lakon Mahabarata dan Ramayana hanya dibawakan sesekali oleh ayahnya, Talam. Karena cerita Mahabarata dan Ramayana adalah pondasi cerita wayang maka setiap dalang harus bisa memainkannya. Bagi Suyadi, kisah Mahabarata dan Ramayana adalah akar dari cerita wayang yang tidak boleh dihilangkan. Semua dalang harus tahu dan mampu memainkan lakonnya. 
Karena itu, bapak dua anak ini selalu siap apabila ada penanggap yang meminta untuk memainkan cerita dari kitab Mahabarata dan Ramayana. “Khusus Wayang Timplong ini, kebanyakan mintanya masih cerita tentang sejarah Indonesia,” ujar Suyadi.

Seperti pendahulunya, kisah paling banyak diceritakan adalah pada zaman perang Indonesia melawan penjajah Belanda. “Menceritakan tentang situasi perang rakyat Indonesia saat merebut kemerdekaan. Mbah Bancol dulu dalangnya seperti itu. Menceritakan perjuangan Indonesia kepada tetangga-tetangganya,” ungkap Suyadi.

Lelaki berusia 57 tahun itu mengatakan, Wayang Timplong diciptakan untuk mengingat sejarah tentang Indonesia. Khususnya kepada para warga di desa-desa dan generasi muda. Harapannya cerita itu terus turun ke generasi berikutnya. 

Lelaki yang juga Kepala Dusun (Kasun) Bongkal, Desa Kepanjen, Kecamatan Pace itu mengatakan, yang bisa membuat wayang kayu ini lebih dekat dengan warga adalah kesederhanaan. Filosofi sederhana yang ada pada Wayang Timplong itu menjadi nilai luhur dalam menjalani kehidupan.

 

Editor : Redaksi Radar Nganjuk
#desa unik #nganjuk #wayang #warisan #KITA #budaya