NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Setelah pihak pembawa gambaranjago menyerahkannya kepada pihak pengantin wanita, boneka jago-jagoan tersebut akan dibawa naik ke pelaminan tempat singgah sana kedua mempelai. Setelah itu jago yang dibawa oleh pihak pengantin wanita akan dimasukkan kedalam rumah. Dalam prosesinya, boneka jago-jagoan yang dibawa pengiring pria tidak sekadar kosongan, melainkan ada bermacam-macam isinya.
Tokoh sesepuh sekaligus dalang manten asal Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro, Nyamintoadi, 60, mengatakan boneka jago-jagoan itu diisi dengan ubarampe. Ubarampe dalam suatu tradisi sangatlah berarti, serta tidak cuma digunakan selaku aksesoris saja, tetapi ada arti di tiap peralatannya.
“Ada cok bakal, kelapa, janur, dan kain,” ujarnya.
Cok bakal menurut pria yang akrab disapa Adi ini merupakan ubarampe yang wajib dalam kebanyakan tradisi di masyarakat Jawa, khususnya tradisi serah terima jago-jagoan pernikahan. Cok bakal adalah suatu sesajen yang dibuat untuk mendapatkan keselamatan dan keberkahan dari Tuhan. “Ya umumnya kepercayaan masyarakat Jawa kalau ada hajat pasti ada Cok Bakal berupa sesajen sebagai bentuk wujug menghormati Tuhan dan leluhur nenek moyang,” tuturnya.
Cok Bakal berisi beranegam jenis ubarmape, antara lain telur ayam kampung, kemiri, bawang merah, lombok merah besar, sirih, pisang, uang koin, beras sedikit dan lain sebaginya. Kemudian, boneka jago-jagoan ditutup dengan kain. Kain ini dapat dijadikan baju dengan berbagai warna sesuai dengan keinginan sang manten.
Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disporabudpar Kabupaten Nganjuk Amin Fuadi mengatakan sebagai masyarakat Jawa, sebaiknya warga Nganjuk tidak melupakan tradisi serah terima jago-jagoan pernikahan. Karena tak banyak daerah yang melakukan tradisi ayam jago. “Tradisi ini asli dari Jawa. Meskipun beberapa daerah punya ciri khasnya masing-masing, misal di Demak Jawa Tengah itu pengiring pria yang ditunjuk untuk menyerahkan ayam jagonya ada dua, satu membawa ayam jago, satunya lagi membawa ubarampe. Ada juga daerah yang harus ada tarian jago usai ayam jago diberikan ke pengiring wanita,” terangnya.
Untuk itu, pemerintah daerah tentu sangat mengapresiasi dan bangga jika masih ada masyarakat yang melestarikan tradisi jago-jagoan di tengah prosesi pernikahan yang lebih modern sekarang. (ica)
Editor : Redaksi Radar Nganjuk