Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

GoTo Buka Suara soal Rumor Akuisisi oleh Grab: Keputusan Belum Final

Elna Malika • Minggu, 11 Mei 2025 | 16:35 WIB
Ojol Gojek
Ojol Gojek

JP Radar Nganjuk – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) kembali memberikan klarifikasi terkait isu akuisisi oleh perusahaan teknologi asal Singapura, Grab Holdings Ltd.

Dalam pernyataan resmi, manajemen GoTo menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan final terkait potensi transaksi tersebut, meskipun perusahaan secara rutin menerima berbagai penawaran dari sejumlah pihak.

Sekretaris Perusahaan GoTo, RA Koesoemohadiani, menyampaikan bahwa direksi memiliki kewajiban untuk mengevaluasi setiap penawaran yang masuk dengan cermat dan penuh kehati-hatian.

Evaluasi ini dilakukan untuk memastikan langkah strategis yang diambil dapat memberikan nilai jangka panjang bagi pemegang saham, mitra pengemudi, pelaku UMKM, pelanggan, serta seluruh pemangku kepentingan.

“Kami memang menerima tawaran dari berbagai pihak dari waktu ke waktu, namun hingga keterbukaan informasi ini, belum ada kesepakatan yang tercapai,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Sabtu (10/5/2025).

Isu akuisisi ini mencuat setelah laporan Reuters menyebutkan bahwa Grab tengah berupaya mengakuisisi GoTo dengan nilai transaksi diperkirakan mencapai US$7 miliar (sekitar Rp114,8 triliun).

Kabar ini diperkuat dengan informasi bahwa Grab telah menunjuk penasihat untuk mengeksekusi kesepakatan, dengan target penyelesaian pada kuartal II 2025. Selain itu, Grab dikabarkan sedang mencari pinjaman sebesar US$2 miliar untuk mendanai akuisisi tersebut.

Menariknya, spekulasi ini juga bersamaan dengan gelombang pengunduran diri sejumlah direksi dan komisaris GoTo, termasuk Nila Marita Indreswari yang mengundurkan diri dari posisi Direktur per 30 April 2025.

Namun, GoTo menegaskan bahwa rumor yang beredar tidak berdampak negatif terhadap operasional maupun kelangsungan bisnis perusahaan.

Di sisi lain, isu merger ini memicu kekhawatiran di kalangan ekonom dan pengamat. Ekonom senior Piter Abdullah menyoroti potensi monopoli asing di pasar domestik, yang dapat merugikan konsumen karena berkurangnya opsi layanan.

Ia juga menekankan pentingnya pemerintah memantau perkembangan ini untuk menjaga keseimbangan antara pemain lokal dan asing di sektor digital. “GoTo adalah karya anak bangsa, jadi aspek nasionalisme dan penguasaan data pengguna harus jadi perhatian,” katanya.

Sementara itu, kinerja keuangan GoTo menunjukkan perbaikan. Pada kuartal I 2025, perusahaan mencatatkan pendapatan bersih Rp4,2 triliun, naik 37% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Rugi bersih juga menyusut 61% menjadi Rp367 miliar, didorong oleh peningkatan pendapatan dan efisiensi biaya. GoTo optimistis dapat mencapai target EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp1,4 triliun hingga Rp1,6 triliun pada 2025.

Di pasar saham, isu akuisisi ini menjadi katalis positif jangka pendek bagi saham GoTo. Pada perdagangan Jumat (9/5/2025), saham GoTo menguat 1,23% ke level Rp82, dengan potensi penguatan lebih lanjut ke Rp89–Rp103 per saham jika isu merger terus berkembang.

Namun, investor diimbau untuk tetap mencermati risiko regulasi dan sentimen terkait dominasi asing.

GoTo menegaskan bahwa pihaknya tetap fokus pada pengembangan bisnis dan pencapaian kinerja, sembari memastikan setiap langkah strategis yang diambil sejalan dengan regulasi yang berlaku, termasuk Peraturan OJK tentang Keterbukaan Informasi.

Dengan dinamika yang terus berkembang, publik dan pemegang saham diharapkan tetap tenang sembari menanti kejelasan lebih lanjut terkait rumor akuisisi ini.

Editor : Elna Malika
#pemegang saham #potensi #GoTo #grab #Cermat #keputusan final #kewajiban #radar nganjuk berita hari ini #Penawaran #Mitra #pelanggan #umkm #isu #klarifikasi #langkah strategis #spekulasi #direksi #akuisisi #Pihak #evaluasi