JP Radar Nganjuk - PT Shell Indonesia, anak perusahaan Shell plc, baru-baru ini mengumumkan pengalihan kepemilikan seluruh bisnis Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia kepada perusahaan patungan baru antara Citadel Pacific Limited dan Sefas Group.
Keputusan ini menjadi sorotan publik setelah rumor penutupan SPBU Shell sempat mencuat pada akhir 2024.
Meski demikian, Shell menegaskan bahwa mereknya akan tetap hadir di Indonesia melalui perjanjian lisensi, memastikan pelanggan masih dapat menikmati produk bahan bakar minyak (BBM) berkualitas tinggi.
Shell Indonesia saat ini mengoperasikan sekitar 200 SPBU di berbagai wilayah, termasuk Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan Sumatera Utara, dengan lebih dari 160 di antaranya dimiliki langsung oleh perusahaan.
Selain itu, Shell juga memiliki terminal penyimpanan bahan bakar di Gresik, Jawa Timur.
Pengalihan kepemilikan ini mencakup seluruh jaringan SPBU serta kegiatan pasokan dan distribusi BBM di Indonesia.
Menurut pernyataan resmi Shell Indonesia, operasional SPBU akan tetap berjalan seperti biasa selama proses transisi yang diperkirakan selesai pada 2025.
Citadel Pacific, perusahaan yang beroperasi di Asia-Pasifik dan sudah menjadi pemegang lisensi merek Shell di beberapa wilayah seperti Guam dan Hong Kong, bersama dengan Sefas Group, distributor pelumas Shell terbesar di Indonesia, menjadi pihak yang mengambil alih bisnis ini.
Langkah ini sejalan dengan strategi global Shell untuk menyederhanakan operasional dan fokus pada bisnis dengan emisi lebih rendah, seperti pengembangan energi terbarukan dan solusi mobilitas baru.
Pada Maret 2024, Shell secara global mengumumkan rencana untuk menutup sekitar 1.000 SPBU hingga 2025 demi mempercepat transisi ke layanan kendaraan listrik.
Di Indonesia, persaingan ketat dengan Pertamina, yang mendominasi pasar ritel BBM dan memiliki hak eksklusif untuk menyalurkan BBM bersubsidi, turut memengaruhi keputusan ini.
Ketua Komite Investasi Aspermigas, Moshe Rizal, menyatakan bahwa dominasi Pertamina di pasar BBM Indonesia membuat persaingan semakin sulit bagi Shell.
"Pertamina semakin kompetitif dalam kualitas, layanan, dan harga, ditambah keunggulan menyalurkan BBM bersubsidi," ujarnya. Hal ini menyebabkan Shell kehilangan daya saing di sektor ritel BBM.
Meski menjual bisnis SPBU, Shell Indonesia memastikan bahwa merek Shell akan tetap eksis melalui perjanjian lisensi dengan pembeli baru.
Pelanggan masih dapat mengakses produk BBM berkualitas tinggi, seperti Shell Super, V-Power, dan Diesel Extra, tanpa perubahan signifikan dalam layanan.
Model lisensi merek ini telah diterapkan Shell di lebih dari 50 pasar global, memungkinkan mitra lokal memanfaatkan nilai merek sambil memenuhi standar kualitas Shell.
Selain itu, Shell tetap berkomitmen pada bisnis lain di Indonesia, khususnya sektor pelumas.
Shell mengoperasikan pabrik pelumas di Marunda, Jakarta, dengan kapasitas 300 juta liter per tahun, dan sedang membangun pabrik manufaktur gemuk di lokasi yang sama dengan kapasitas 12 kiloton per tahun.
Pada 2022, Shell juga mengakuisisi EcoOils, memperkuat portofolio bisnis bahan bakar rendah karbon di kawasan Asia-Pasifik. Indonesia tetap menjadi pasar strategis untuk pertumbuhan bisnis pelumas Shell.
Pengumuman penjualan pada 23 Mei 2025 ini menjadi babak baru bagi Shell di Indonesia.
Merek Shell akan tetap hadir melalui lisensi, dengan Citadel Pacific dan Sefas Group memastikan kualitas bahan bakar tetap terjaga.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira