Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Sudah Tahu Belum? Biskuit Khas Lebaran Khong Guan Ternyata Bukan Dari Indonesia!

Redaksi Radar Nganjuk • Jumat, 28 Maret 2025 | 00:30 WIB
Sudah Tahu Belum? Biskuit Khas Lebaran Khong Guan Ternyata Bukan Dari Indonesia!
Sudah Tahu Belum? Biskuit Khas Lebaran Khong Guan Ternyata Bukan Dari Indonesia!

Biskuit Khong Guan telah lama menjadi teman setia saat Lebaran di Indonesia. Kaleng merah dengan ilustrasi seorang ibu bersama dua anak yang sedang makan bersama di meja sudah membekas di ingatan sebagai lambang kenangan masa kecil.

Kepopulerannya di Tanah Air membuat banyak orang menganggap biskuit ini lahir di Indonesia.

Namun, kenyataannya, Khong Guan berasal dari Singapura, bukan produk asli Nusantara seperti yang sering diasumsikan.

Merek ini pertama kali dibentuk oleh dua saudara, Chew Choo Keng dan Chew Choo Han, yang berasal dari wilayah Fujian, Tiongkok.

Mereka meninggalkan kampung halaman pada 1930-an untuk mencari kehidupan baru di Singapura, di mana mereka awalnya bekerja di sebuah perusahaan biskuit.

Saat pendudukan Jepang terjadi di Singapura pada 1940-an, keduanya mengungsi ke Perak, Malaysia, dan memproduksi biskuit secara tradisional demi mencukupi kebutuhan.

Usai perang, mereka kembali ke Singapura untuk membangun usaha mereka sendiri.

Khong Guan Biscuit Factory resmi didirikan pada 1947 di 18 Howard Road, Singapura, dengan dana awal sekitar S$60.000.

Chew Choo Han, yang mahir dalam bidang mekanik, merancang sistem produksi sederhana menggunakan rantai sepeda sebagai konveyor semi-otomatis.

Inovasi ini mempermudah proses pembuatan biskuit dan menjadi langkah awal menuju perkembangan bisnis yang signifikan.

Dari sini, Khong Guan mulai meniti karier sebagai merek yang dikenal luas.

Perjalanan Khong Guan kemudian meluas ke pasar global. Pada 1950-an dan 1960-an, produk ini mulai masuk ke Malaysia, lalu ke Indonesia sebagai barang impor pada periode yang sama.

Produksi lokal di Indonesia baru dimulai pada 1971 melalui PT Khong Guan Biscuit Factory Indonesia di Surabaya, menjawab permintaan yang kian tinggi.

Saat ini, biskuit tersebut telah hadir di lebih dari 40 negara, membuktikan statusnya sebagai merek internasional yang sukses.

Ciri khas Khong Guan yang paling menonjol adalah desain kalengnya yang legendaris.

Ilustrasi ibu dan dua anak di meja makan diambil dari buku anak-anak Ladybird dari Inggris dan diolah ulang oleh seniman Indonesia, Bernardus Prasodjo, pada dekade 1970-an.

Gambar ini kemungkinan dirancang untuk menarik hati para ibu sebagai konsumen utama.

Namun, ketiadaan sosok ayah dalam desain itu kerap jadi bahan candaan di kalangan masyarakat Indonesia.

Di Indonesia, Khong Guan bukan sekadar camilan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kalengnya yang tahan lama sering dipakai ulang untuk menyimpan barang seperti kerupuk atau peralatan kecil setelah biskuitnya habis.

Keberadaannya di hari raya terasa wajib, didukung oleh harga yang ramah kantong dan beragam rasa dalam satu kemasan.

Hal ini membuatnya terasa begitu dekat dengan budaya lokal, meski asal-usulnya dari luar negeri.

Berawal dari Singapura, Khong Guan mampu menyesuaikan diri dengan cita rasa dan tradisi masyarakat Indonesia.

Kisah dua bersaudara dari Fujian ini menjadi bukti bahwa usaha keras dan ide sederhana dapat melahirkan sesuatu yang mendunia.

Dari sebuah perusahaan kecil, Khong Guan telah bertransformasi menjadi simbol kehangatan di banyak keluarga saat merayakan hari besar.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#khong guan #sejarah