Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Jelajah Desa Unik di Nganjuk: Penerus Wayang Timplong Turun ke Kerabat

Iqbal Syahroni • Rabu, 27 Desember 2023 | 17:11 WIB

Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Cerita tentang Wayang Timplong yang hanya bisa dimainkan oleh keturunannya ternyata tidak spesifik merujuk pada keturunan biologis. Secara biologis, hanya ada tiga generasi Mbah Bancol yang menjadi dalang. Setelah itu, dalang wayang ini diteruskan oleh kerabatnya. 

“Pencetus Wayang Timplong ini adalah Mbah Bancol. Dia punya anak namanya Sariguno merupakan generasi pertama yang menjadi dalang. Ia punya anak yang menjadi dalang juga namanya Cewul. Lalu Cewul punya putra namanya Trawar. Trawar adalah generasi terakhirnya dari keturunan Mbah Bancol yang menjadi dalang Wayang Timplong,” terang Suyadi yang kini mewarisi ilmu dalang Wayang Timplong.

Baca Juga: Jelajah Desa Unik di Nganjuk: Dalang Wayang Timplong Keturunan Mbah Bancol

Silsilah Mbah Bacol ini terputus sampai pada Trawar. Sebab, anak-anak Trawar tidak ada lagi yang mewarisi ilmu dalang Wayang Timplong. Karena keturunannya tidak ada yang menjadi dalang, dia lantas mendidik Talam menjadi dalang Wayang Timplong.  Talam sebelumnya adalah anggota grup dalang Mbah Trawar. Dia dipercaya menjadi penabuh gendang.

Seiring berjalannya waktu, Talam kemudian diajari mendalang hingga kemudian menjadi penerus ilmu mendalang. Dia kemudian mewarisi ilmu dalang ke anaknya Suyadi. Hingga sekarang, ada dua dalang Wayang Timplong yang masih eksis di Kabupaten Nganjuk. Selain Suyadi yang kini tinggal di Desa Kepanjen, Kecamatan Pace, ada juga Warsito yang tinggal di Desa Getas, Kecamatan Tanjunganom. 

Baca Juga: Jelajah Desa Unik di Nganjuk: Dalang Wayang Timplong Keturunan Mbah Bancol

Warsito juga mendapatkan ilmu mendalang dari orang tuanya, Maelan. Sedangkan Maelan juga diajari Mbah Trawar. Baik Warsito maupun Suyadi adalah keponakan Mbah Trawar. “Makanya masih bisa diturunkan karena juga masih keluarga jauh,” ujarnya.Sementara itu, keturunan langsung dari Trawar tidak ada yang meneruskan profesi dalang. Suyadi tidak mengetahui alasannya. “Mbah Trawar punya lima orang kepercayaan yang juga bekerja sebagai (penabuh, Red) gendang saat dalang. Kelimanya orang itulah yang diajari Mbah Trawar untuk mewarisi ilmu Wayang Timplong,” ujar lelaki berusia 57 tahun itu.

Kelestarian Wayang Tim­plong saat ini memang menjadi tantangan tersendiri. Selain karena jumlah dalang yang semakin sedikit, juga karena minimnya regenerasi. Semoga kedepannya, Wayang Timplong tetap bisa dilestarikan dan dikenal oleh masyarakat luas. 

Baca Juga: Mengenal Nama Dusun dan Desa Unik di Kota Angin (3-Bersambung) Pasar Kapuk Koripan Jadi Legenda Kelurahan Kapas

 

Editor : Redaksi Radar Nganjuk
#desa unik #nganjuk #wayang #warisan #wisata #budaya