NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Wayang Timplong menjadi kesenian tradisional yang berkembang di Kabupaten Nganjuk. Salah satu upaya masyarakat Kota Angin melestarikannya adalah menggelar pertunjukkan saat bersih desa (nyadran).
“Wayang Timplong tidak boleh mati. Harus tetap eksis sampai anak cucu dan generasi selanjutnya,” ucap Suyadi dengan penuh optimistis. Agar tetap kesenian itu tetap lestari maka harus ada regenerasi dan menggelar pertunjukan rutinitas minimal setahun sekali.
Selain bisa digelar saat nyadran di desa-desa, pertunjukkan Wayang Timplong ini diharapkan bisa tampil setiap kegiatan hari jadi Kabupaten Nganjuk. Sebagai karya seni asli Kota Angin, Suyadi menganggap tidak berlebihan bila Wayang Timplong diberi kesempatan untuk tampil di acara ulang tahun Kabupaten Nganjuk.
Agar Wayang Timplong terus menggema dan selalu diingat maka keberadaan wayang ini perlu dikenalkan kepada generasi muda. Khususnya pengenalan ke anak-anak sekolah. Sehingga, keberadaan wayang ini tidak hanya sebatas sarana hiburan yang dipentaskan untuk menghibur tetangganya. Wayang Timplong idealnya bisa menjadi daya tarik serta kekayaan seni dan budaya yang ada di Kota Angin.
Sebagai dalang wayang Timplong, Suyadi punya komitmen untuk terus melestarikan wayang yang dipelajari dari orang tuanya tersebut. “Sejak dulu, saya ingin kesenian ini tetap lestari dan dikenal oleh masyarakat luas,” ucap Suyadi menyampaikan rasa cintanya pada wayang tersebut.
Sama seperti yang dilakukan oleh para pendahulunya, Suyadi berupaya untuk terus melestarikan Wayang Timplong lewat pertunjukkan sederhana di banyak tempat. “Baik di sekitar rumah, hingga ke luar kota,” ungkap lelaki yang tinggal di Desa Kepanjen, Kecamatan Pace itu.
Selain tanggapan dari Nyadran, ia juga baru tampil di lingkungan Pemkab Nganjuk. Suyadi pertama kali menggelar pertunjukan di Pendapa Kabupaten Nganjuk saat momentum peringatan Hari Kemerdekaan. “Menurut saya itu juga bagian dari melestarikan Wayang Timplong yang difasilitasi Pemkab Nganjuk,” ungkap bapak dua anak itu.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk Sri Handaraningsih melalui Kabid Kebudayaan Amin Fuadi mengatakan, langkah-langkah yang harus dilakukan saat ini adalah mengenalkan budaya itu semua lapisan masyarakat. “Saya rasa, bagi sebagian warga Nganjuk jika ditanya Wayang Timplong masih familiar. Karena masih banyak yang nanggap saat Nyadran,” imbuhnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel
Editor : Redaksi Radar Nganjuk