Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Mengenal Mariati, Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Nganjuk

Novanda Nirwana • Selasa, 5 Mei 2026 | 15:48 WIB
Mariati menunjukkan piagam penghargaan saat peringatan Hardiknas 2026
Mariati menunjukkan piagam penghargaan saat peringatan Hardiknas 2026

 

Mariati adalah kepala sekolah senior di Kabupaten Nganjuk. Kepala SDN 1 Ganungkidul ini dipercaya mengemban amanah sebagai K3S Kecamatan Nganjuk. Jabatan tersebut didapat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perjuangan ekstrakeras dilakukan kepala sekolah berhijab ini saat menjalani karir sebagai guru SD hingga sekarang. 

 

NOVANDA NIRWANA - NGANJUK, JP Radar Nganjuk

 

“Gaji saya itu hanya Rp 50 ribu saat mulai mengajar pada 1989,” ujar Mariati. Saat itu, status Mariati adalah guru tidak tetap (GTT). Hal itu dilakoni Mariati selama lima tahun. Bertahun-tahun itu, Mariati harus mengencangkan ikat pinggang. Karena gaji Rp 50 ribu per bulan itu sebenarnya honor yang jauh dari kata cukup.

Meski demikian, Mariati tidak menyerah. Dia tetap berjuang dan mengabdikan diri sebagai guru SD. Baginya, menjadi guru sejak awal bukan soal materi. Dedikasi itu ia maknai sebagai bentuk loyalitas terhadap bangsa dan negara. Meski awalnya bukan pilihan pribadi melainkan dorongan orang tua, jalan itu justru membentuknya menjadi sosok yang mencintai dunia pendidikan sepenuh hati.

Pada tahun 1994, Mariati diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Dia ditempatkan di SDN 1 Kedungrejo, Kecamatan Tanjunganom. Kemudian, dia dipercaya menjadi kepala sekolah. Mulai dari  Kepala SDN Ngrengket selama dua tahun, Kepala SDN 3 Payaman selama lima tahun dan pada Juni 2025, dipercaya menjadi Kepala SDN 1 Ganungkidul.

Kemudian, sejak 2020, Mariati dipercaya menjadi Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Nganjuk. Jabatan itu bukan sekadar posisi, tetapi medan pengabdian yang lebih luas. Kepala sekolah berusia 58 tahun ini harus mengkoordinasikan 39 lembaga pendidikan, dengan beragam karakter di dalamnya. “Tantangannya banyak. Namanya memimpin, apalagi dengan banyak lembaga, pasti tidak mudah,” ujarnya.

Mariati tidak menutup mata terhadap dinamika yang ada. Dalam setiap rapat, keputusan memang diambil bersama. Namun dalam praktiknya, tidak semua berjalan mulus.“Kadang di depan setuju, tapi di belakang berbeda. Itu hal biasa,” tuturnya.

Alih-alih terpancing emosi, Mariati memilih jalan sabar dan merangkul. Bahkan ketika pernah dipusuhi oleh sesama guru, ia tetap membuka ruang komunikasi tanpa dendam.

“Saya tidak pernah balas dendam. Tetap saya rangkul. Saya kasih pemahaman bahwa keputusan bersama harus dijalankan,” ungkapnya.

Yang menarik, ada yang tidak berbeda dari Mariati saat masih menjadi guru hingga kepala sekolah. Dia tetap mengendarai sepeda motor pulang pergi dari rumah hingga sekolah. Setiap berangkat dan pulang sekolah, Mariati mengendarai motor dengan menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer. Karena rumahnya ada di Barong, Kecamatan Tanjunganom. Sedangkan, tempatnya bertugas ada di SDN 1 Ganungkidul, Kecamatan Nganjuk.

Kini, setelah puluhan tahun mengabdi, motivasinya tetap sederhana namun kuat, ingin melihat pendidikan di Kabupaten Nganjuk semakin maju. Apalagi, dia Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026, Mariati mendapat penghargaan atas dedikasi dan keteladanan dalam pengelolaan keuangan sekolah secara transparan, akuntabel, dan efisien dari Korwil Pendidikan TK, SD Kecamatan Nganjuk. “Saya ingin pendidikan di Nganjuk lebih baik ke depannya,” ujarnya. (tyo)

Editor : rekian
#kelompok kerja kepala sekolah #hari pendidikan nasional #kepala sekolah