Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Ekonomi & Bisnis Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah

Minal Kosirin, Korban Pengeroyokan di Desa Sukorejo

Novanda Nirwana • Senin, 29 Juni 2026 | 19:17 WIB
Minal Kosirin, Korban Pengeroyokan di Desa Sukorejo
Minal Kosirin, Korban Pengeroyokan di Desa Sukorejo

 

Nama Minal Kosirin, 25, warga Dusun Congol, Desa Macanan, Kecamatan Loceret mendadak heboh. Karena dia ternyata menjadi korban tewas saat pengeroyokan di Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret pada Rabu (24/6). Padahal, sebelumnya tersiar kabar jika yang tewas adalah Sutrisno, tetangga Minal Kosirin. Sementara, Minal Kosirin di desa dan teman-temanya dikenal sebagai Eko Ali.

 

NOVANDA NIRWANA – NGANJUK, JP Radar Nganjuk

 

“Kami sudah ganti nama Minal Kosirin menjadi Eko Ali dengan jenang abang,” Sumidi, ayah Minal Kosirin saat ditemui di rumahnya pada Kamis (25/6). Namun, secara administrasi kependudukan, nama Minal Kosirin tidak berubah. Sehingga, Eko Ali hanya sebagai nama panggilan.

Saat tersiar kabar ada korban meninggal dunia dengan nama Sutrisno, 20, tetangga Minal Kosirin, teman korban menghubungi Minal Kosirin lewat handponenya. Namun, yang mengangkat telepon tersebut petugas di Rumah Sakit Bhayangkara. Saat itu, baru terungkap jika yang meninggal dunia adalah Minal Kosirin. Bukan Sutrisno. Karena itu, teman Minal Kosirin akhirnya menghubungi keluarga Minal Kosirin untuk memastikan kematian korban di rumah sakit.

Mendengar kabar itu, Sumidi dan Winarti, istrinya menuju ke Rumah Sakit Bhayangkara. Mereka mengecek kebenaran kabar Kosirin meninggal dunia. Saat di kamar jenazah, Winarti pingsan. Sumidi akhirnya yang memastikan jika Kosirin meninggal dunia.

Jenazah Kosirin akhirnya dibawa ke rumah duka pada Rabu sore (24/6). Jenazah dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat pukul 19.00 WIB. Winarti terlihat shock. Setiap menceritakan kondisi putra pertamanya dari tiga bersaudara, perempuan berusia 50 tahun itu langsung pingsan.

 

 

Bagi keluarga, meninggalnya Kosirin menjadi pukulan telak. Karena kepergiannya untuk selama-lamanya tidak pernah diduga. “Malam itu dia pamit mau main sama teman-temannya. Karena temannya akan disahkan menjadi warga PSHT,” ujar Sumidi.

Ternyata pamitnya Kosirin itu adalah yang terakhir. Laki-laki berusia 25 tahun itu tidak bisa lagi bekerja di Surabaya sebagai buruh bangunan. “Padahal dia itu pulang tiga minggu sekali. Ternyata minggu ini adalah minggu terakhir dia pulang,” ujar Sumidi.

Kini, keluarga Kosirin meminta agar pelaku pengeroyokan dihukum seberat-beratnya. Karena perbuatan mereka tak manusiawi. Pelaku mengeroyok Kosirin bersama Sutrisno, Hendra Ibnu Ardiansyah, dan Yoga Pratama tidak dengan tangan kosong. Namun, mereka menggunakan batu bata dan bata cor. Akibatnya, Kosirin tewas dan tiga temannya terluka parah. “Nyawa harus dibayar nyawa kalau seperti itu,” tandasnya. (tyo)

 

Editor : rekian
#desa sukorejo #korban pengeroyokan #pesilat #psht