Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Rahasia Nastar: Lebih dari Sekadar Kue Hari Raya

Elna Malika • Minggu, 30 Maret 2025 | 19:29 WIB
Rahasia Nastar: Lebih dari Sekadar Kue Hari Raya
Rahasia Nastar: Lebih dari Sekadar Kue Hari Raya

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Kue nastar telah menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana Lebaran di Indonesia, menemani hari kemenangan dengan bentuk mungilnya yang menggemaskan dan isian selai nanas yang memikat.

Teksturnya yang renyah berpadu dengan rasa manis-asam selai di dalamnya selalu berhasil mencuri hati, baik tua maupun muda.

Namun, di balik kelezatannya, nastar menyimpan kisah panjang yang merentang dari masa kolonial hingga menjadi simbol perayaan lintas budaya.

Baca Juga: Inilah 5 Amalan yang Bisa Dilakukan Agar Malam Takbiran Penuh Makna.

Jejak nastar bermula dari Belanda, dibawa ke Nusantara saat era penjajahan.

Nama "nastar" berasal dari ananas taart (tart nanas) yang awalnya mungkin berbentuk pai kecil khas Eropa.

Di tangan masyarakat lokal, kue ini berubah wujud menjadi kue kering yang praktis dengan isian selai nanas, memanfaatkan buah tropis yang melimpah di Indonesia.

Rasa unik dari selai nanas yang segar menjadi kunci yang membuat nastar begitu disukai dan membedakannya dari kue-kue lain.

Pengaruh budaya Tionghoa juga turut mewarnai perjalanan nastar.

Dalam tradisi Tionghoa, nanas melambangkan keberuntungan dan kemakmuran karena bunyinya dalam dialek Hokkien (ong lai) yang berarti "datangnya keberuntungan".

Tak heran, selain jadi sajian Lebaran yang identik dengan budaya Melayu, nastar juga sering menghiasi meja saat Imlek.

Perpaduan budaya ini menjadikan nastar lebih dari sekadar camilan, tetapi juga cerminan akulturasi yang harmonis.

Di momen Lebaran, nastar tak hanya sekadar hidangan pelengkap, tapi juga pembawa cerita dan tradisi keluarga.

Banyak rumah tangga yang masih melestarikan ritual membuat nastar bersama-sama menjelang hari raya, mulai dari mengaduk adonan hingga membentuk bulatan kecil dengan penuh canda tawa.

Proses ini bukan hanya soal menghasilkan kue, tetapi juga mempererat ikatan antaranggota keluarga, menjadikan nastar sebagai bagian dari memori Lebaran yang tak ternilai.

Kini, nastar hadir dalam berbagai variasi, ada yang ditambah keju, diisi selai stroberi, atau dibuat dalam ukuran mini yang modern.

Namun, nastar klasik dengan selai nanas tetap jadi primadona, membawa nostalgia dan kehangatan di setiap suapan.

Dari Belanda, Tionghoa, hingga tradisi lokal, nastar adalah manisnya Lebaran yang sarat akan sejarah dan kebersamaan.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#nastar #kue nastar