JP Radar Nganjuk – Hubungan asmara sejatinya memberi rasa nyaman dan saling mendukung.
Tapi, bagaimana jika hubungan itu justru bikin stres, cemas, bahkan merasa tidak berharga? Hati-hati, bisa jadi kamu sedang terjebak dalam toxic relationship alias hubungan yang tidak sehat.
Hubungan asmara idealnya menjadi sumber kebahagiaan dan kenyamanan. Namun, tak sedikit hubungan yang justru menjadi beban emosional karena sifat toksik yang tak disadari.
Fenomena toxic relationship atau hubungan tidak sehat kini makin marak, terutama di kalangan anak muda.
Psikolog dan pemerhati hubungan interpersonal, Ratri Wulandari, S.Psi., mengatakan bahwa hubungan toksik bisa ditandai dari banyak aspek, mulai dari komunikasi, perilaku, hingga dampak emosional yang dirasakan.
Berikut beberapa tanda hubungan toksik yang perlu diwaspadai:
1.Selalu Disalahkan
Salah satu pihak selalu merasa dipersalahkan atas segala hal, bahkan untuk kesalahan yang bukan tanggung jawabnya.
Hal ini membuat korban merasa rendah diri dan tidak percaya diri.
2.Komunikasi yang Menyakitkan
Pasangan sering menggunakan kata-kata kasar, meremehkan, atau bahkan menghina. Bentuk komunikasi ini perlahan menggerus mental dan emosi korban.
3.Cemburu Berlebihan dan Mengontrol
Pasangan yang toksik cenderung ingin mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai dari pertemanan, cara berpakaian, hingga aktivitas harian.
Bahkan, tak jarang melarang bertemu dengan keluarga.
4.Silent Treatment
Menggunakan diam sebagai bentuk hukuman juga menjadi tanda hubungan yang tidak sehat.
Ini bisa membuat pasangan merasa diabaikan dan tidak dihargai.
5.Merasa Terjebak, Tapi Takut Pergi
Korban toxic relationship seringkali merasa tidak bahagia, namun tidak berani meninggalkan hubungan karena takut, tidak percaya diri, atau merasa bergantung secara emosional.
Ia pun mengimbau agar generasi muda lebih melek kesehatan mental dalam hubungan.
Edukasi dan komunikasi terbuka dengan orang-orang terdekat sangat penting untuk mencegah dampak negatif jangka panjang dari hubungan toksik.
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah bicara dengan orang terpercaya, seperti sahabat atau keluarga. Jika perlu, minta bantuan profesional seperti psikolog.
Ingat, hubungan yang sehat adalah yang saling menghargai, bukan saling menyakiti.
Jangan ragu untuk memilih dirimu sendiri, jika hubungan mulai terasa menyiksa.
Penulis: Miranda Febryana
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira