Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Review Anime Leviathan Netflix: Steampunk Megah, Tapi Apa Cukup Puas?

Internship Radar Kediri • Rabu, 23 Juli 2025 | 21:20 WIB
Poster Anime Leviathan
Poster Anime Leviathan

JP Radar Nganjuk — Netflix resmi merilis Leviathan, serial original net animation (ONA) terbaru bergenre steampunk yang diadaptasi dari trilogi novel karya Scott Westerfeld. Serial ini tayang perdana secara global pada 10 Juli 2025 dan menghadirkan perpaduan unik antara Perang Dunia I, robot raksasa, dan hewan hasil rekayasa genetika.

Berlatar tahun 1914, Leviathan menyoroti pertemuan tak terduga antara Pangeran Aleksandar, seorang pangeran pelarian dari Kekaisaran Austria-Hongaria dan Deryn Sharp, seorang gadis miskin yang menyamar sebagai laki-laki untuk menjadi awak kapal terbang Leviathan.

Baca Juga: Kenapa The Summer Hikaru Died Jadi Anime Horor Paling Dibicarakan di Netflix?

Dalam semesta alternatif ini, pihak Blok Sentral disebut Clankers dengan senjata robot raksasa, sementara Blok Sekutu, Darwinists, memanfaatkan Beasties, makhluk hasil rekayasa genetika yang menjadi senjata hidup.

Serial ini diarahkan oleh Christophe Ferreira dengan studio Orange (terkenal lewat Beastars) sebagai animator, serta diproduksi Qubic Pictures (Star Wars: Visions).

Musik diisi oleh Nobuko Toda, Kazuma Jinnouchi (Halo, Metal Gear Solid), dan Joe Hisaishi, komposer langganan film-film Hayao Miyazaki.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Anime Heart Warming yang Wajib Ditonton Sekali Seumur Hidup

Desain visualnya dikerjakan langsung oleh Keith Thompson, ilustrator novel aslinya. Westerfeld juga terlibat aktif dalam naskah, desain, hingga pengawasan episode untuk memastikan adaptasi tetap setia pada materi sumber.

Leviathan dibuat menggunakan animasi 3D dengan latar belakang 2D, sesuai keputusan produser Justin Leach meski awalnya Ferreira berencana membuatnya sepenuhnya 2D.

Serial ini memiliki 12 episode yang membagi tiga buku menjadi masing-masing empat episode. Bahasa Jepang menjadi audio utama dengan opsi sulih suara Inggris.

Baca Juga: Sudah Tahu? Inilah Film Franchise & Sekuel Paling Dinanti Tahun 2025, Siap-Siap Antri Tiket Mulai Sekarang!

Joe Hisaishi menciptakan lagu pembuka “Paths Combine” dan penutup “The Sky Ahead” berkolaborasi dengan Diana Garnet, menambah nuansa sinematik pada setiap episode.

Secara visual, Leviathan memanjakan penonton dengan desain mesin Clanker dan Beasties yang cocok untuk animasi 3D, serta latar petualangan lintas benua yang bervariasi.

Akting karakter, meski tidak se-ekspresif Trigun Stampede, masih menghadirkan detail halus, didukung penampilan karakter pendukung seperti Dr. Nora Barlow sang ilmuwan feminis, hingga Lilit, pejuang revolusioner yang memberi sentuhan representasi queer.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Horor Shamanisme Asia Paling Seram yang Bikin Merinding Sendirian

Namun, serial ini menuai kritik atas konsep Beasties yang dianggap kurang masuk akal, seperti paus terbang yang dijadikan kapal perang. Kritik lain muncul karena alur adaptasi tiga novel tebal dalam 12 episode dinilai membuat banyak detail penting terasa terburu-buru dan beberapa plot point tampak dangkal.

Dengan ide-ide segar, nilai produksi tinggi, dan arahan visual menawan, Leviathan tetap menjadi suguhan menarik bagi penonton muda pecinta fiksi alternatif.

Namun, penonton yang mendambakan eksplorasi mendalam mungkin merasa plotnya terlalu tipis dan tidak tuntas mengeksplorasi dilema moral di balik teknologi Darwinists.

Leviathan menegaskan posisi Orange sebagai studio animasi 3D terdepan, meski adaptasi ambisius ini berakhir sebagai petualangan steampunk yang indah tapi setengah matang.

Penulis: Dania Karlita Ningsih Mahasiswa Magang Universitas Brawijaya

Editor : Jauhar Yohanis
#leviathan #Anime Adaptasi #Review Anime #netflix