JP Radar Nganjuk – Di tengah tren minuman kekinian yang silih berganti, siwalan tetap menjadi primadona di kalangan warga pedesaan dan pesisir Jawa Timur.
Minuman ini berasal dari buah lontar yang tumbuh subur di daerah kering seperti Tuban, Lamongan, Gresik, hingga pesisir Madura.
Dikenal juga dengan nama buah tal, siwalan punya bentuk bulat berwarna cokelat tua dengan daging buah putih kenyal dan rasa manis alami. Airnya yang segar sering dijadikan pelepas dahaga, terutama di siang terik.
“Kalau habis kerja di sawah atau pantai, minum siwalan itu rasanya langsung plong,” ujar Suyitno, penjual siwalan di pinggir jalan pantura Lamongan.
Buah ini biasanya dijual utuh, lalu dibelah di tempat untuk diambil airnya. Daging buahnya yang kenyal bisa dimakan langsung atau dicampur es sirup.
Tak jarang, siwalan juga diolah menjadi gula lontar, bahan pembuat legen, hingga minuman fermentasi tradisional.
Musim panen siwalan biasanya tiba di akhir musim hujan hingga awal kemarau. Saat itu, penjual siwalan mulai ramai di sepanjang jalan pesisir.
Harga satu buah siwalan terbilang terjangkau, sehingga menjadi pilihan favorit pekerja, nelayan, hingga wisatawan yang melintas.
Selain menyegarkan, siwalan juga dikenal punya manfaat kesehatan. Airnya mengandung elektrolit alami yang membantu mengembalikan cairan tubuh, sementara dagingnya kaya serat. Tak heran, minuman ini sering jadi “minuman isotonik alami” versi rakyat.
Meski pohon lontar mulai jarang ditemui di beberapa daerah, keberadaan siwalan tetap jadi bagian penting budaya kuliner masyarakat pesisir. Ia bukan sekadar pelepas dahaga, tapi juga simbol kekayaan alam yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Author : Muhammad Farhansyah - PSDKU Polinema Kediri
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira