Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Menguak Realitas Pelecehan Lewat Cerpen Menyusu Ayah Karya Djenar Maesa Ayu

Internship Radar Kediri • Selasa, 12 Agustus 2025 | 18:07 WIB
Kumpulan cerpen Jangan Main-main dengan Kelaminmu
Kumpulan cerpen Jangan Main-main dengan Kelaminmu

JP RADAR NGANJUK-Cerpen Menyusu Ayah merupakan salah satu karya Djenar Maesa Ayu dalam bukunya yang berjudul Jangan Main-Main Dengan Kelaminmu. Cerpen ini  menceritakan kisah kelam seorang anak perempuan bernama Nayla.

Sedari kecil, Nayla telah kehilangan sosok ibu yang meninggal saat melahirkannya. Sejak saat itu, satu-satunya figur orang tua yang ia miliki hanyalah sang ayah. Namun, kehidupan bersamanya jauh dari gambaran rumah yang hangat dan melindungi. 

Baca Juga: Selain Hiburan, Peran Karya Sastra Itu Apa Sih? Ini Jawabannya

Nayla kecil tumbuh dalam asuhan yang keliru—sebuah pola pengasuhan yang tidak dibangun atas dasar kasih sayang yang sehat, melainkan dibalut oleh pelecehan yang terselubung.

Kurangnya edukasi dan minimnya perhatian yang benar membuat Nayla menerima segala perlakuan sang ayah tanpa protes. Belaian dan sentuhan yang seharusnya menjadi wujud cinta ayah pada anaknya justru beralih fungsi menjadi bentuk pelecehan. 

Baca Juga: Sastra Digital, Cara Efektif Menarik Minat Anak Muda di Era Visual

Tak hanya dari ayah, lingkungan pertemanannya pun memberi dampak buruk. Teman-temannya memperlakukan Nayla dengan cara yang salah, namun ia tak mampu membedakan mana yang kasih sayang tulus dan mana yang sebenarnya merugikan dirinya.

Bagi Nayla kecil, semua itu semula hanyalah tanda perhatian. Pola pikir yang terbentuk sejak dini membuatnya terbiasa dan bahkan pasrah terhadap perilaku tersebut. Hingga akhirnya, kesalahkaprahan itu menyeretnya pada konsekuensi besar: Nayla hamil di usia yang sangat belia. Peristiwa ini menjadi titik balik yang membekas, menandai perjalanan hidupnya yang penuh luka.

Baca Juga: Menyingkap Luka Sosial dalam Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Meski masa kecilnya diwarnai pengalaman pahit, luka itu membentuk karakter Nayla menjadi perempuan yang keras, kuat, dan mandiri. Ia belajar bertahan hidup tanpa sepenuhnya bergantung pada figur seorang ayah. Bahkan, ia menumbuhkan keyakinan bahwa dirinya bisa mengendalikan hidupnya sendiri, sekalipun dunia tidak pernah benar-benar aman untuknya.

Namun, trauma masa lalu meninggalkan jejak pada cara Nayla memandang cinta dan hubungan dengan laki-laki. Ia tumbuh dengan persepsi yang keliru: tidak ingin menjadi objek laki-laki, melainkan subjek yang “menikmati” mereka. 

Baca Juga: 5 Novel Romantis Paling Baper yang Bisa Kamu Habiskan Sekali Duduk, Dijamin Bikin Nangis!

Baginya, menguasai situasi dan menempatkan diri di atas laki-laki adalah bentuk kontrol dan perlawanan terhadap masa lalunya. Sikap ini lahir dari luka yang dalam, membuatnya terlihat tegar di luar, namun menyimpan kepedihan yang tak pernah benar-benar hilang.

Djenar Maesa Ayu membalut kisah ini dengan bahasa yang lusan sekaligus simbolis. Gaya penulisan Djenar yang lugas dan tegas menjadi nilai tambah, membuat pesan tentang penindasan terhadap perempuan tersampaikan jelas.

Baca Juga: Rekomendasi Novel Indie Anti Mainstream: Ceritanya Berbeda, Bikin Kamu Lupa Bacaan Pasaran!

Simbol “menyusu” mengandung makna ganda dalam cerita. Secara umum, menyusu ialah kegiatan yang identik dengan kenyamanan dan kasih sayang. Namun, dalam kisah ini maknanya dibalik menjadi bentuk pelecehan yang membingungkan bagi korban.

Perpaduan kata “menyusu ayah” menciptakan kesan yang tidak wajar, terasa tidak nyaman–hubungan yang seharusnya penuh perlindungan justru menjadi ruang terjadinya pelecehan oleh orang terdekat.

Baca Juga: Butuh Healing? Ini Rekomendasi Novel Feel Good Biar Pikiran Adem Lagi

Cerpen ini mengangkat isu patriarki dan isu pelecehan dalam lingkup keluarga–realitas pahit yang masih kerap dinormalisasi dalam kehidupan masyarakat. Tema keluarga yang diangkat membuat cerita terasa sangat dekat dengan realitas.

Lewat cerpen Menyusu Ayah, Djenar Maesa Ayu tidak hanya menghadirkan cerita fiksi, tetapi juga cermin sosial. Ia mengajak pembaca melihat bahwa pelecehan bukan hanya terjadi di luar rumah, melainkan bisa berawal dari orang yang seharusnya melindungi.

Baca Juga: Kangen Masa Remaja? Ini 6 Novel Coming of Age Paling Ikonik yang Wajib Kamu Baca Ulang!

Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

Editor : Jauhar Yohanis
#patriarki #penulis #pelecehan #Djenar Maesa Ayu #menulis #sastra #cerpen #ayah