JP RADAR NGANJUK - Brainrot atau pembusukan otak adalah kondisi di mana otak mengalami penurunan fungsi, terutama kemampuan berpikir dan kognitif. Penurunan fungsi ini muncul karena paparan konten pendek secara berlebihan dari sosial media. Konten seperti meme receh dan video anomali menjadi penyebab utama.
Beberapa jurnal sudah mengonfirmasi bahwa penyebab brainrot adalah penggunaan screentime yang berlebihan. Dampak dari kondisi ini bisa sangat luas dan beragam. Selain penurunan fungsi otak, sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 300 mahasiswa menunjukkan adanya keterikatan signifikan antara penggunaan sosial media dengan kesehatan mental. Salah satunya adalah stress dan depresi.
Scrolling yang dilakukan di waktu yang acak dan tanpa tujuan jelas juga memperparah kondisi ini. Seringkali kita membuka hp dengan niat ingin mengecek sesuatu yang penting. Tanpa sadar kita membuka Instagram atau TikTok. Saat asyik scrolling, kita lupa apa yang sebenarnya ingin dilakukan. Penurunan tingkat konsentrasi, daya ingat, dan penurunan kemampuan berpikir kritis adalah beberapa dampak nyata yang ditimbulkan brainrot.
Berita-berita dari luar negeri juga menunjukkan tingkah anak-anak yang random dan aneh. Mereka mengadaptasi video-video anomali yang cukup absurd. Ada juga anak-anak yang sampai mengalami tantrum karena ketergantungan konten hiburan pendek di sosial media.
Dampak brainrot sangat relevan dengan masalah yang dialami Gen Z saat ini. Oleh karena itu, penting untuk memahami mengapa screentime bisa begitu kuat mempengaruhi otak, mulai dari fokus, konsentrasi, hingga kesehatan mental.
Otak kita memiliki sistem reward alami yang membuat kita merasa bahagia dan termotivasi saat melakukan hal-hal bermanfaat. Kegiatan seperti belajar, membaca buku, dan olahraga dapat mengaktifkan hormon dopamin. Di era sekarang, sumber dopamin bisa diaktifkan dengan cara yang lebih mudah dan cepat. Cukup dengan scrolling TikTok atau menonton Instagram reels, kita sudah mendapatkan kesenangan instan.
Masalahnya adalah otak kita secara alami suka hal yang cepat dan efisien tanpa tahu apakah itu baik atau buruk bagi kita. Hal ini akhirnya mengganggu sistem motivasi alami kita. Otak biasanya memberi reward setelah melakukan sesuatu yang berarti, seperti berolahraga. Sekarang, rasa senang itu datang hanya dari scrolling konten pendek.
Hal ini membuat kita malas melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat untuk hidup. Otak tidak tahu apakah itu baik atau buruk. Otak hanya tahu mana yang cepat dan instan.
Selain itu, otak memiliki coping mechanism, yaitu cara alami untuk mengatur emosi. Proses ini bisa dilakukan secara sadar maupun otomatis untuk meredakan emosi negatif. Coping mechanism yang sehat biasanya dengan olahraga, meditasi, menulis jurnal, atau curhat dengan teman. Cara-cara ini membantu kita memproses emosi secara menyeluruh, bukan sekadar menekan sementara atau menghindari masalah.
Namun, banyak orang tanpa sadar memilih pelarian instan yang tidak sehat, yaitu scrolling terus-menerus di sosial media. Cara ini tidak mengelola emosi dengan baik dan hanya menekan sementara tanpa menyelesaikan masalah.
Otak kita memiliki dua sistem berpikir, yaitu sistem cepat dan instan, serta sistem lambat dan mendalam. Ketika kita terlalu sering mengonsumsi konten cepat, sistem cepat otak saja yang terlatih. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis menjadi pasif. Fokus jangka panjang terganggu. Kita jadi cenderung menginginkan informasi yang singkat dan mudah dicerna saja.
Dengan demikian, fenomena brainrot akibat penggunaan sosial media dan screentime yang berlebihan sangat nyata dan berdampak luas pada kualitas hidup, terutama bagi Gen Z. Memahami cara kerja otak dan dampak dari kebiasaan scrolling tanpa kendali adalah langkah awal yang penting agar kita bisa mengatur penggunaan sosial media dengan lebih bijak.
Dengan begitu, kita dapat menjaga kesehatan mental dan mempertahankan kemampuan berpikir kritis yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan.
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis