JP RADAR NGANJUK - Filologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari dan menerjemahkan naskah-naskah lama. Naskah-naskah tersebut tidak hanya berisi catatan sejarah atau cerita tradisional, tetapi juga memuat filsafat hidup, ajaran moral, sistem kepercayaan, serta berbagai ilmu pengetahuan kuno seperti pengobatan tradisional dan teknik pertanian.
Faktanya, sebanyak 26.000 lebih naskah lama milik Indonesia tersimpan di negeri Belanda tepatnya di Universitas Leiden. Berapa banyak informasi penting yang masih belum ditransmisikan di antara ribuan lontar tersebut? Sedangkan di Indonesia sendiri ilmu filologi tampaknya kurang mendapat perhatian, baik dari pemerintah maupun masyarakat luas.
Jack Parmin, dosen jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia membagi pengalamannya ketika mengunjungi salah satu museum yang menyimpan naskah lama Indonesia. Ia menemukan praktik yang cukup merisaukan, yaitu penggunaan mesin fotokopi untuk menggandakan naskah-naskah yang rentan lapuk.
"Naskahnya di fotokopi. Bayangkan, naskah lama dengan kertas yang sudah sangat rapuh dipaparkan panas alat fotokopi. Ini bukan cara yang tepat. Kita memerlukan edukasi yang lebih masif tentang penjagaan warisan penting ini," ujarnya saat mengisi mata kuliah filologi di Universitas Negeri Surabaya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pemahaman dan kesadaran akan pentingnya menjaga naskah kuno masih sangat minim, bahkan di kalangan yang memiliki akses langsung terhadap naskah tersebut.
Masa depan filologi di Indonesia terancam stagnan jika ilmu ini terus berada di bawah bayang-bayang ketidakpopuleran. Minimnya pemahaman masyarakat dan rendahnya minat generasi muda terhadap filologi dapat membuat jumlah peneliti di bidang ini semakin menyusut. Peluang terburuknya, penelitian terhadap naskah kuno bisa terhenti atau berjalan lambat, sehingga banyak pengetahuan dan nilai sejarah yang berisiko hilang atau dicuri tanpa pernah digali.
Baca Juga: Kenali Istilah Brainrot dan Dampaknya Bagi Otak
Kondisi ini diperburuk oleh fakta bahwa sebagian besar naskah lama Indonesia (lebih dari 26.000 koleksi) justru tersimpan di Universitas Leiden, Belanda. Walaupun sebagian sudah didigitalisasi masih banyak naskah yang belum terdokumentasi secara lengkap. Naskah yang sudah didigitalisasi juga cenderung sulit diakses. Hambatan jarak, biaya, dan prosedur akses membuat para peneliti dalam negeri kesulitan memanfaatkan sumber daya yang seharusnya menjadi milik bangsa.
Masa depan filologi penting untuk mendapat perhatian karena naskah kuno bukan sekadar dokumen tua, melainkan rekaman identitas, pengetahuan, dan kebijaksanaan bangsa yang tak ternilai. Tanpa perhatian serius hari ini, generasi mendatang mungkin hanya akan mengenal sejarahnya dari fragmen yang terpotong-potong. Mereka kemungkinan besar akan kehilangan kesempatan untuk belajar langsung dari sumber warisan budaya yang otentik.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Novel untuk Belajar Sejarah Indonesia
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah - Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis