JP RADAR NGANJUK-Fenomena Hallyu wave tak hanya mempengaruhi tren fashion, musik, dan gaya hidup anak muda Indonesia, tetapi juga membentuk pola berbahasa yang unik. Berkat paparan drama Korea (K-drama), kosakata seperti oppa, aigoo, gomawo, daebak, dan lainnya kini menyelusup ke dalam percakapan sehari-hari, menciptakan warna baru dalam ragam bahasa gaul.
Dalam kajian linguistik sastra, bahasa yang digunakan dalam karya sastra (termasuk naskah drama) tidak hanya menyampaikan makna, tetapi juga membentuk atmosfer, karakteristik, dan kedalaman emosional.
Baca Juga: Sastra Digital, Cara Efektif Menarik Minat Anak Muda di Era Visual
Dialog dalam K-drama seringkali memiliki gaya bahasa (style) yang sarat emosi—seperti pengulangan (repetition) untuk penekanan, interjeksi (kata seru) untuk mengekspresikan rasa, atau pemanggilan dengan sapaan khusus (oppa, unnie, dan lainnya) yang membangun kedekatan emosional antar tokoh.
Ketika penonton mengadopsi diksi tersebut, mereka tidak hanya meminjam kata, tetapi juga membawa nuansa emosional yang menyertainya. Misalnya, kata aigoo dalam drama biasanya diucapkan dengan intonasi tertentu yang mengandung rasa heran, kesal, atau gemas.
Baca Juga: Selain Hiburan, Peran Karya Sastra Itu Apa Sih? Ini Jawabannya
Di luar konteks drama, anak muda Indonesia tetap menggunakannya dengan intonasi serupa—seolah ikut memerankan tokoh yang mereka tonton.
Fenomena ini dapat dipahami melalui konsep intertekstualitas dalam sastra, di mana suatu teks (dalam hal ini, percakapan anak muda) memuat jejak teks lain (dialog K-drama) yang memengaruhinya.
Baca Juga: Menjembatani Karya Sastra dan Generasi Muda melalui Ekranisasi
Bahkan, beberapa anak muda menciptakan dialog spontan yang mirip adegan drama, menjadikan percakapan sehari-hari sebagai bentuk performative language—bahasa yang sekaligus menjadi pertunjukan.
Dari sisi perkembangan bahasa, fenomena ini memperlihatkan proses alih kode (code-switching) dan campur kode (code-mixing) yang khas.
Baca Juga: Cerpen di TikTok: Sastra Secepat Geseran Layar
Bedanya, alih kode di sini bukan sekadar untuk kebutuhan komunikasi praktis, tetapi juga untuk membangun gaya, identitas, dan nuansa tertentu—mirip seperti teknik yang digunakan pengarang dalam karya sastra untuk menghidupkan tokoh dan setting.
Dengan demikian, pengaruh drama Korea pada pilihan diksi anak muda bukan sekadar tren bahasa gaul, tetapi juga bentuk “permainan bahasa” yang memiliki nilai estetis, emosional, dan identitas—sebuah praktik yang jika dilihat dari kacamata sastra, menyatukan kehidupan sehari-hari dengan panggung dramatik.
Baca Juga: Sima: Cerpen Karya Sasti Gotama yang Menggugat Penindasan dan Perampasan Kebebasan
Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis