JP RADAR NGANJUK-Di berbagai tempat, di media sosial, bahkan di ruang kuliah, fenomena code-switching atau alih kode semakin akrab terdengar. Percakapan yang awalnya berbahasa Indonesia mendadak disisipi bahasa Inggris: "Tadi gue udah submit tugas, but I’m not sure kalau dosennya approve". Fenomena ini bukan hanya tren gaya bicara anak muda, tapi juga gejala linguistik yang menarik untuk dianalisis.
Baca Juga: 7 Skill yang Tidak Akan Lekang oleh Waktu
Ahli bahasa menyebut code-switching sebagai perpindahan dari satu bahasa atau ragam bahasa ke bahasa lain dalam satu percakapan. Alasannya beragam: ingin terdengar lebih keren, menyesuaikan lawan bicara, atau merasa lebih mudah mengungkapkan maksud dengan bahasa tertentu. Namun, pertanyaannya: apakah ini pertanda kreativitas berbahasa atau justru sinyal lemahnya penguasaan bahasa?
Dari sisi positif, code-switching menunjukkan kemampuan bilingual atau multilingual yang fleksibel. Seseorang yang bisa berpindah bahasa dengan lancar biasanya memiliki kepekaan tinggi terhadap konteks dan lawan bicara. Dalam dunia kerja global, keterampilan ini bahkan menjadi nilai tambah.
Baca Juga: Cerpen di TikTok: Sastra Secepat Geseran Layar
Namun, tak bisa dipungkiri ada sisi negatifnya. Campur-campur bahasa tanpa aturan sering membuat struktur bahasa baku terpinggirkan. Generasi muda mungkin jadi kurang terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, apalagi dalam konteks formal. Akibatnya, kemampuan menulis resmi dan komunikasi akademik bisa menurun.
Fenomena ini juga memicu perdebatan di kalangan pendidik. Sebagian guru dan dosen khawatir bahwa kebiasaan alih kode di ruang kelas membuat siswa kehilangan kosakata bahasa ibu. Sementara itu, pihak lain berpendapat bahwa code-switching adalah bentuk wajar dari perkembangan bahasa yang mengikuti zaman.
Baca Juga: Viral di TikTok! ‘Ordinary’ Jadi Lagu yang Bikin Pendengar Baper Massal
Lalu, apakah code-switching hanya tren gaul atau gejala bahasa yang krisis? Jawabannya mungkin ada di cara kita menggunakannya. Selama bisa membedakan konteks formal dan nonformal, serta tetap menjaga keterampilan bahasa utama, code-switching bisa menjadi bukti kreativitas dan kekayaan bahasa, bukan ancaman bagi keberadaannya.
Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis