Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

3 Hal Bermasalah dari Film Animasi Merah Putih One For All

Internship Radar Kediri • Selasa, 19 Agustus 2025 | 17:00 WIB
sadampermanawijaya kritik film merah putih one for all
sadampermanawijaya kritik film merah putih one for all

Film animasi nasional Merah Putih One For All yang seharusnya menjadi kebanggaan di momen Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, justru menuai kontroversi. Kritik keras muncul dari sebuah unggahan di TikTok oleh akun @sadampermanawijaya. Ia menyoroti tiga masalah utama dalam film tersebut: kesalahan bahasa pada trailer, kualitas produksi, dan dugaan pelanggaran hak cipta.

Unggahan Sadam itu sontak viral dan ramai diperbincangkan. Bukan hanya videonya, kolom komentar juga dibanjiri reaksi netizen yang menegaskan bahwa film tersebut memang bermasalah sejak awal.

1. Kesalahan Bahasa dalam Trailer

Masalah pertama yang disoroti Sadam adalah penggunaan bahasa dalam trailer resmi film. Ia menilai penulisan teks di layar tidak sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).

Contohnya, frasa “bendera nya” yang seharusnya ditulis serangkai menjadi “benderanya”, serta penggunaan singkatan “YG” untuk kata “yang”. Kesalahan ini dinilai mencederai semangat nasionalisme yang diusung film.

Kritik itu diperkuat komentar netizen. Akun @tuing menuliskan, “Kenapa ‘Tapi hilang bendera nya’ bukan ‘Tapi benderanya hilang’” yang langsung mendapat lebih dari 7.300 tanda suka. Netizen lain, @Akil99, juga menyoroti penulisan usia kemerdekaan dengan komentar, “‘80th’ itu bahasa Indonesia apa Inggris??”

Hal-hal kecil yang dianggap sepele ini justru memperlihatkan kurangnya ketelitian produksi. Padahal, bagi film yang mengusung tema nasionalisme, detail bahasa menjadi aspek penting untuk menjaga kredibilitas.

2. Kualitas Produksi Dinilai Lemah

Selain bahasa, Sadam menyoroti kualitas film secara keseluruhan. Menurutnya, animasi yang ditampilkan masih jauh dari standar. Visualnya dinilai kaku, pencahayaan kurang halus, dan pengisi suara tidak menyatu dengan karakter.

Ia juga menilai jalan cerita membingungkan. Di bagian awal, penonton diperlihatkan gerbang desa yang penuh bendera. Namun, inti cerita justru berkisar pada pencarian bendera yang hilang. “Konsep ceritanya kontradiktif. Dari awal sudah banyak bendera, lalu kenapa inti cerita malah mencari bendera yang hilang?” kritiknya.

Komentar netizen turut menguatkan pandangan tersebut. Akun @zeinframe menuliskan, “DARI JUDUL AJE UDAH ONE FOR ALL,” yang disukai lebih dari 12 ribu pengguna. Banyak warganet sepakat bahwa judul berbahasa campuran justru terasa aneh untuk film yang membawa misi kebangsaan.

3. Dugaan Pelanggaran Hak Cipta

Masalah ketiga yang menambah kontroversi adalah dugaan pelanggaran hak cipta. Seorang seniman 3D asal Pakistan, Junaid Miran, mengaku enam karakter buatannya digunakan oleh tim produksi Merah Putih: One For All tanpa izin, kredit, maupun kompensasi.

Isu ini membuat film semakin terpuruk. Jika tuduhan benar, maka film yang dipromosikan sebagai karya besar anak bangsa justru mencoreng citra perfilman nasional. 

Selain itu, muncul pula kabar bahwa biaya produksi film mencapai Rp6,7 miliar. Namun, klaim ini dibantah produsen, meski tetap menyisakan tanda tanya soal transparansi penggunaan anggaran.

Publik yang semula menaruh harapan pada film animasi nasional justru kecewa. Banyak komentar netizen menegaskan bahwa kesalahan dasar seperti ejaan, kualitas animasi, dan tuduhan plagiarisme seharusnya tidak terjadi pada film yang mengusung tema kebangsaan.

Alih-alih menjadi kebanggaan di Hari Kemerdekaan, film yang seharusnya membangkitkan semangat nasionalisme ini justru tersandung kontroversi. Tiga masalah-kesalahan bahasa, kualitas produksi, dan dugaan pelanggaran hak cipta membuat Merah Putih One For All lebih banyak menuai cibiran ketimbang apresiasi.

 

Penulis: Annisa Aulia Mujiono-Universitas Negeri Surabaya

Editor : Jauhar Yohanis
#kritik #kemerdekaan 17 agustus #film #Merah Putih One for All #animasi