JP RADAR NGANJUK-Di tanah Sunda, ada satu minuman yang tak lekang oleh waktu. Namanya bandrek ramuan sederhana dari jahe, gula merah, dan rempah pilihan.
Dulu, bandrek lahir dari dapur-dapur desa sebagai teman di malam dingin pegunungan. Kini, ia tampil cantik di meja kafe modern dengan sentuhan kreatif anak muda.
Jejak Tradisional
Bagi masyarakat Sunda, bandrek lebih dari sekadar minuman. Ia adalah "obat rakyat" untuk mengusir masuk angin, menghangatkan tubuh, hingga jadi pengiring obrolan malam di beranda rumah.
Filosofinya sederhana: kehangatan yang dibagi akan membuat hidup terasa lebih ringan.
Rahasia bandrek ada pada kesederhanaannya. Jahe yang dibakar, gula merah yang cair, dan rempah seperti kayu manis, cengkeh, serta serai. Hasilnya adalah rasa pedas-manis yang menenangkan, aroma harum yang akrab, dan sensasi hangat yang menular hingga ke hati.
Transformasi ke Era Kekinian
Bandrek tak berhenti di warung bambu atau gerobak malam hari. Kini, generasi muda mengolahnya jadi kreasi baru: bandrek susu, bandrek latte, hingga bandrek kemasan botol yang bisa dibawa ke mana saja.
Di kafe, ia bahkan sering disajikan dengan latte art, membuktikan bahwa tradisi bisa berdampingan dengan gaya hidup modern.
Mengapa bandrek tak pernah punah? Karena ia bukan sekadar minuman, tapi warisan budaya yang adaptif. Bandrek mampu berubah mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya: sebuah simbol kehangatan, kebersamaan, dan kekayaan rempah Nusantara.
Bandrek adalah bukti bahwa kuliner tradisional bisa beradaptasi lintas zaman. Dari dapur desa hingga meja kafe modern, bandrek selalu membawa pesan yang sama: kehangatan dan kebersamaan.
Jadi, ketika Anda menyeruput segelas bandrek, ingatlah bahwa Anda sedang merasakan jejak sejarah, filosofi hidup Sunda, dan kekayaan rempah Nusantara dalam satu tegukan
Fun Fact : Minuman Kolonial. Catatan sejarah menyebutkan, bandrek pernah populer di kalangan Belanda pada masa kolonial, karena bahan dasarnya jahe dan rempah dianggap “exotic” dan bernilai tinggi.
Melanie Putri Devianasari-Mahasiswa UN PGRI Kediri
Editor : Jauhar Yohanis