Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Apakah Sastra Lisan Masih Relevan untuk Generasi Z?

Internship Radar Kediri • Kamis, 21 Agustus 2025 | 00:00 WIB
Ilustrasi Pewarisan Sastra Lisan
Ilustrasi Pewarisan Sastra Lisan

JP RADAR NGANJUK-Generasi Z dikenal sebagai generasi yang lahir dan besar di tengah arus digital. Akses informasi cepat, hiburan singkat, dan interaksi instan sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. TikTok, YouTube Shorts, hingga Instagram Reels lebih sering menemani waktu luang dibandingkan cerita rakyat atau dongeng nenek yang dahulu akrab di telinga. Pertanyaan pun muncul: apakah sastra lisan—dengan format tutur yang panjang, reflektif, dan penuh makna—masih memiliki tempat di hati generasi ini?

Sastra lisan bukan sekadar cerita hiburan. Ia menyimpan identitas kolektif masyarakat: nilai moral, pengetahuan lokal, sejarah, hingga cara pandang suatu komunitas terhadap dunia. Pantun, peribahasa, hikayat, atau dongeng yang diwariskan secara lisan berfungsi sebagai media pendidikan sekaligus jembatan antargenerasi. Bagi Generasi Z, memahami sastra lisan berarti ikut merawat jejak sejarah dan budaya.

Baca Juga: Tak Hanya Matematika, Ketahui 9 Tipe Kecerdasan Berikut!

Namun, keberlangsungan sastra lisan menghadapi tantangan besar. Gaya hidup digital menuntut sesuatu yang cepat, visual, dan instan. Cerita panjang dengan bahasa tradisional bisa terasa membosankan bagi mereka yang terbiasa dengan konten singkat berdurasi 30 detik. Selain itu, banyak generasi muda lebih fasih menggunakan bahasa global dibandingkan bahasa daerah, sehingga jarak dengan sastra lisan semakin melebar.

Meski terlihat terpinggirkan, sastra lisan justru masih sangat relevan jika dikemas ulang. Cerita rakyat bisa dijadikan animasi singkat atau komik digital. Pantun dapat dipadukan dengan tren konten media sosial sebagai bentuk hiburan interaktif. Bahkan podcast dapat menjadi wadah baru untuk menghadirkan kembali hikayat dengan gaya tutur yang segar. Dengan cara ini, Generasi Z tidak hanya mengonsumsi budaya global, tetapi juga mendapat pengalaman unik dari warisan budaya lokal.

Baca Juga: Mengenal Filologi: Ilmu Penting yang Terlupakan

Upaya kreatif sudah mulai dilakukan di berbagai tempat. Beberapa festival budaya menghadirkan lomba mendongeng dengan format hybrid (tatap muka dan daring). Ada juga kanal YouTube yang khusus menceritakan kembali legenda Nusantara dengan animasi modern. Lomba berpantun yang dulunya hanya ada di acara adat kini hadir dalam bentuk kontes daring. Semua inovasi ini membuktikan bahwa sastra lisan bisa bertransformasi tanpa kehilangan esensinya.

Selain pelestarian budaya, sastra lisan juga bermanfaat untuk pembentukan karakter generasi muda. Nilai moral seperti kejujuran, kerja sama, keberanian, hingga cinta tanah air banyak tersimpan dalam kisah tradisional. Dengan menghidupkan kembali sastra lisan, Generasi Z tidak hanya mendapat hiburan, tetapi juga bekal nilai kehidupan yang mungkin sulit mereka peroleh dari budaya populer global.

Baca Juga: 3 Hal Bermasalah dari Film Animasi Merah Putih One For All

Sastra lisan tidak bisa dilihat sebagai peninggalan usang yang hanya pantas tersimpan di arsip. Ia adalah bagian dari identitas bangsa yang bisa terus relevan jika diberi ruang di era digital. Bagi Generasi Z, sastra lisan dapat hadir sebagai pengalaman budaya yang kaya—asal dikemas dengan cara yang sesuai dengan gaya hidup mereka. Dengan demikian, sastra lisan berpotensi menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi lama dengan masa depan.

Baca Juga: Fakta Menarik Film You Are the Apple of My Eye Versi Korea, Debut Layar Lebar Dahyun TWICE

 

Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

Editor : Jauhar Yohanis
#Sastra Lisan #digitalisasi #generasi z #pelestarian budaya #Hikayat