Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Kidal Itu Langka, Inilah Penyebabnya!

Internship Radar Kediri • Kamis, 21 Agustus 2025 | 17:56 WIB
Ilustrasi Kidal
Ilustrasi Kidal

JP RADAR NGANJUK-Kalau dipikir logika sederhana, kita semua memiliki dua tangan. Maka, seharusnya peluang orang lahir dengan dominasi tangan kanan dan kiri itu sama besar. Tapi kenyataan tidak begitu. Menurut Alodokter dan Hello Sehat, hanya sekitar 10% dari populasi dunia yang kidal, sementara sisanya dominan tangan kanan. Pertanyaannya, kenapa jumlah orang kidal begitu sedikit?

Penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan tangan mana yang lebih dominan sangat dipengaruhi oleh gen dan cara kerja otak. Otak kita bekerja secara silang: otak kiri mengatur gerakan tubuh bagian kanan, dan otak kanan mengatur gerakan tubuh bagian kiri. Karena itulah orang kidal lebih banyak menggunakan otak kanan dalam aktivitas motoriknya.

Dalam perkembangannya, otak kiri manusia ternyata lebih dominan pada sebagian besar orang. Otak kiri bukan hanya mengendalikan tangan kanan, tetapi juga sangat erat kaitannya dengan fungsi bahasa. Karena kemampuan berbahasa menjadi faktor penting dalam evolusi manusia, otak kiri semakin dominan, sehingga jumlah orang bertangan kanan jauh lebih banyak.

Baca Juga: Lifestyle Zero Waste: Mulai Gaya Hidup Ramah Lingkungan ala Gen Z

Ada teori lain yang melihat dari sisi sosial. Dalam perkelahian atau olahraga, orang kidal kadang lebih unggul karena lawannya tidak terbiasa menghadapi gaya tangan kiri. Secara logika, kalau manusia sangat bergantung pada kompetisi, jumlah orang kidal mungkin akan meningkat untuk memberikan variasi dalam strategi bertahan hidup.

Namun kenyataannya, manusia lebih banyak mengandalkan kerja sama dibanding kompetisi. Karena hidup bersama lebih menguntungkan, jumlah orang tangan kanan yang lebih seragam dianggap lebih praktis. Hal inilah yang membuat jumlah orang kidal tetap minoritas.

Dari sisi budaya, tangan kiri pernah dianggap negatif. Dalam banyak masyarakat tradisional, menggunakan tangan kiri di depan umum dinilai tidak sopan, bahkan tabu. Akibatnya, anak-anak yang sebenarnya kidal sering dipaksa menggunakan tangan kanan sejak kecil. Pemaksaan ini bisa memengaruhi cara kerja otak, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan kecenderungan alami mereka.

Baca Juga: Pesan Tiket Kereta, Lebih Untung KAI Access atau Traveloka?

Ada juga sebagian orang yang akhirnya bisa menggunakan kedua tangan sama baiknya, atau dikenal sebagai ambidextrous. Akan tetapi, kondisi ini ternyata tidak selalu menguntungkan. Justru otak mereka harus bekerja lebih keras karena tidak ada dominasi yang jelas pada salah satu tangan.

Hingga sekarang, orang kidal tetap menghadapi tantangan. Sebagian besar benda sehari-hari—mulai dari gunting, kursi sekolah, alat tulis, hingga peralatan rumah tangga—dirancang untuk orang tangan kanan. Hal ini membuat orang kidal harus beradaptasi lebih keras.

Tanpa disadari, mayoritas tangan kanan menikmati “privilege” yang lahir dari jumlah mereka yang dominan. Dunia memang dibuat sesuai kebutuhan mereka, sementara orang kidal terus berada di posisi minoritas.

Baca Juga: Miris, Banyak Anak Indonesia Tak Bisa Baca Jam Analog! Mendikdasmen Angkat Bicara

 

Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

Editor : Jauhar Yohanis
#populasi #kidal #otak #minoritas #Dominan