Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Mengapa Otak Kita Suka ASMR?

Internship Radar Kediri • Jumat, 22 Agustus 2025 | 23:13 WIB
Ilustrasi ASMR
Ilustrasi ASMR

JP RADAR NGANJUK-Beberapa tahun terakhir, fenomena ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response) semakin populer di internet. Cukup buka YouTube atau TikTok, kita bisa menemukan ratusan video dengan suara-suara lembut: mulai dari bisikan, ketukan kuku di meja, hingga suara kunyahan makanan. Meski bagi sebagian orang terdengar aneh, ternyata ada banyak penonton yang merasa rileks hanya dengan mendengar bunyi-bunyian itu.

ASMR digambarkan sebagai sensasi nyaman yang biasanya muncul di kepala atau leher, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Sensasi ini sering membuat orang merasa lebih tenang, mengantuk, bahkan seperti sedang dipeluk atau diperhatikan. Para peneliti menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena otak merespons suara ASMR dengan cara yang mirip ketika kita mendengar musik favorit: ia memicu pelepasan hormon yang membantu mengurangi stres dan meningkatkan rasa bahagia.

Baca Juga: Dari Urban Gardening hingga Gaming Strategis: Hobi Baru yang Lagi Hits di Kalangan Gen Z

Yang menarik, banyak suara ASMR sebenarnya menyerupai bunyi-bunyi yang dekat dengan pengalaman perawatan atau kasih sayang, seperti suara orang membisikkan sesuatu dengan lembut. Secara psikologis, hal ini membuat otak kita seolah sedang “dirawat”, sehingga muncul rasa aman dan nyaman.

Namun, tidak semua orang bisa merasakannya. Ada yang langsung merasa rileks, tapi ada juga yang biasa saja atau malah terganggu. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang dengan tingkat kecemasan tinggi atau suasana hati yang mudah berubah justru lebih sensitif terhadap ASMR, sehingga lebih mudah merasakan manfaatnya.

Meski demikian, perlu dicatat bahwa ASMR bukan obat mujarab. Jika terlalu sering menonton atau mendengarkan, otak bisa mengalami “kejenuhan” sehingga efek menenangkan itu berkurang. Mirip seperti makanan favorit yang lama-lama tidak lagi terasa spesial jika dimakan setiap hari.

Baca Juga: Lifestyle Zero Waste: Mulai Gaya Hidup Ramah Lingkungan ala Gen Z

Salah satu penelitian bahkan mencoba menguji dampak ASMR pada dua kelompok orang: mereka yang mengalami depresi dan mereka yang tidak. Hasilnya cukup mengejutkan. Kedua kelompok sama-sama mengalami peningkatan mood setelah menonton video ASMR, meskipun dampak terbesar terasa pada mereka yang memiliki gejala depresi.

Dari sini terlihat bahwa ASMR bukan hanya sekadar tren internet yang viral, tetapi bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk merawat kesehatan mental. Ia bisa membantu orang menenangkan pikiran, mengurangi rasa cemas, hingga memperbaiki suasana hati. Tentu saja, efeknya tidak sama pada semua orang, tapi keberadaan ASMR menunjukkan bahwa suara-suara sederhana pun mampu memberi pengaruh besar pada otak dan perasaan kita.


Baca Juga: Drama Korea Genie, Make a Wish Dibintangi Kim Woo-bin & Suzy, Tayang 3 Oktober 2025 di Netflix

 

Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

Editor : Jauhar Yohanis
#bunyi #rileks #otak #goodmood #ASMR #internet