JP RADAR NGANJUK-Cerpen Ramai karya Sasti Gotama yang terbit di Kompas pada 9 Mei 2021 menghadirkan kisah kelam seorang perempuan bernama Rania. Di balik judulnya yang singkat dan sederhana, cerita ini justru memuat pergulatan batin yang sarat luka, kesedihan, dan suara-suara yang tak tertahankan.
Rania digambarkan sebagai perempuan muda yang terpuruk setelah mengalami peristiwa traumatis di kampus, sesuatu yang menyangkut kehormatannya. Ia meringkuk lama di tempat tinggalnya, membiarkan waktu berjalan dengan tubuh yang ada tetapi jiwa yang retak. Dalam masa sulit itu, kekasihnya hadir sebagai penopang. Mereka mengisi hari dengan percakapan, dari soal menulis hingga tentang pekerjaan lelaki itu yang kerap berganti. Kebersamaan itu menjadi upaya untuk meredam perih, meski luka mereka sama-sama menganga.
Namun, takdir justru mempermainkan. Lelaki yang menjadi sandaran Rania pergi meninggalkannya untuk mengajar anak-anak rimba di Kalimantan—dan tidak pernah kembali. Kehilangan berlapis itu membuat Rania semakin rapuh. Ia tak hanya berduka, tetapi juga merasa benar-benar ditinggalkan. Suara-suara ramai yang sebelumnya bisa ia alihkan bersama kekasih, kini menjelma bising yang menyesakkan dada.
Puncak keputusasaan itu datang ketika Rania memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dalam momen tragis itu, ia terlebih dahulu meluruhkan janin yang baru beberapa minggu bersemayam dalam rahimnya. Tindakan itu bukan hanya simbol dari runtuhnya harapan, tetapi juga penolakan terhadap kehidupan yang tak sempat bersemi.
Baca Juga: Cerpen di TikTok: Sastra Secepat Geseran Layar
Simbolisme Judul Ramai
Judul Ramai menjadi ironi yang kuat dalam cerpen ini. Kata itu biasanya diasosiasikan dengan kehidupan, keceriaan, dan kebersamaan. Namun bagi Rania, “ramai” justru berarti kebisingan yang menyesakkan. Ia dikelilingi percakapan, tawa, bahkan kesibukan sehari-hari, tetapi semua itu terasa hampa. Dengan demikian, ramai di sini melambangkan jarak antara dunia luar dan batin tokoh utama—keramaian tidak otomatis berarti kehidupan, dan justru bisa menjadi selubung yang menutupi kesepian terdalam.
Representasi Perempuan dan Patriarki
Cerpen ini memperlihatkan bagaimana perempuan kerap berada dalam posisi rentan di bawah bayang-bayang patriarki. Rania menjadi korban dari peristiwa di kampus yang berkaitan dengan “kehormatannya”—isu yang secara sosial dan budaya sering kali membebani perempuan. Alih-alih diberi ruang aman untuk pulih, ia justru terkucil dalam sunyi. Kepergian sang kekasih menambah beban ganda: perempuan bukan hanya menghadapi trauma, tetapi juga kehilangan penopang yang seharusnya setara. Cerita ini menyingkap bagaimana perempuan sering kali ditinggalkan sendirian menanggung luka, sementara sistem sosial di sekitarnya tidak cukup peduli.
Kritik Sosial dalam Cerita
Melalui kisah Rania, Sasti Gotama menyuarakan kritik sosial terhadap minimnya dukungan psikologis dan struktural bagi korban trauma, khususnya perempuan. Keputusan Rania untuk mengakhiri hidupnya menunjukkan kegagalan lingkungan sosial—kampus, keluarga, bahkan masyarakat luas—dalam memberi tempat yang aman bagi mereka yang terluka. Kritik ini juga diarahkan pada cara masyarakat memaknai “kehormatan” perempuan, seolah-olah nilainya lebih penting daripada hidup dan keselamatan dirinya.
Baca Juga: Sima: Cerpen Karya Sasti Gotama yang Menggugat Penindasan dan Perampasan Kebebasan
Bunuh Diri sebagai Simbol Keputusasaan
Keputusan Rania untuk mengakhiri hidup tidak hanya sebuah akhir tragis, melainkan simbol dari tertutupnya semua jalan. Ia kehilangan tubuhnya (dengan meluruhkan janin), kehilangan cinta (sang kekasih yang pergi), dan kehilangan suara (ditelan oleh “keramaian” yang tak mendengar). Bunuh diri menjadi simbol keputusasaan perempuan yang tidak lagi melihat celah untuk bertahan hidup dalam sistem yang mengekangnya.
Ramai berbicara lebih dari sekadar cerita personal; ia merefleksikan kondisi banyak perempuan di dunia nyata. Trauma seksual, stigma “kehormatan”, minimnya dukungan mental health, dan relasi kuasa yang timpang masih menjadi masalah yang nyata hari ini. Sasti Gotama dengan tajam menyuarakan bahwa luka-luka perempuan bukan hanya urusan individu, tetapi juga persoalan sosial yang harus dihadapi bersama.
Sasti Gotama dengan lirih menyingkap persoalan yang kerap ditutup rapat: kehormatan perempuan yang direnggut, hubungan yang patah, dan depresi yang berujung pada bunuh diri. Ramai bukan sekadar kisah personal, tetapi juga peringatan tentang pentingnya mendengarkan suara yang tenggelam dalam keramaian.
Baca Juga: Menguak Realitas Pelecehan Lewat Cerpen Menyusu Ayah Karya Djenar Maesa Ayu
Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis