Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Mengapa Kita Lebih Sering Mengingat Kritik Kecil Dibandingkan Pujian yang Besar?

Internship Radar Kediri • Rabu, 27 Agustus 2025 | 23:05 WIB
overthingking, negativity bias
overthingking, negativity bias

JP RADAR NGANJUK - Satu kritik kecil bisa menghantui kita berhari-hari, sementara sepuluh pujian sering terlupakan. Fenomena ini disebut negativity bias, yaitu kecenderungan otak manusia lebih peka terhadap hal-hal buruk dibanding hal baik. Apa itu negativity bias?

Negativity bias terjadi karena otak lebih cepat menyimpan dan mengingat informasi negatif. Baumeister dan rekan-rekannya (2001) menjelaskan bahwa hal buruk memiliki “kekuatan psikologis” lebih besar dibandingkan hal baik, sehingga dampaknya terhadap emosi dan perilaku kita lebih lama terasa. Otak kita otomatis menyimpan kritik, kegagalan, atau situasi menyakitkan lebih lama daripada pujian atau hal positif.

Fenomena ini berakar dari evolusi manusia. Di masa purba, manusia harus selalu waspada terhadap ancaman lingkungan, predator, atau konflik sosial. Informasi negatif yang cepat diingat meningkatkan peluang bertahan hidup. Sayangnya, mekanisme ini masih ada di otak kita modern, meski ancaman sehari-hari kini berbeda dan sering bersifat psikologis.

Negativity bias bisa meningkatkan risiko kesehatan mental secara signifikan. Negatifity bias bisa memicu overthingking, rasa minder, dan rasa tidak percaya diri. Lalu bagaimana cara mengontrol negativity bias ini?

Saat menerima kritik, cobalah berbicara pada diri sendiri dengan lembut, seolah kamu menenangkan seorang teman. Alih-alih menyalahkan diri sendiri, katakan, misalnya, “Tidak apa-apa, semua orang bisa membuat kesalahan. Aku tetap belajar dan berkembang.” Sikap ini membantu otak menurunkan reaksi emosional negatif dan memberi ruang untuk refleksi.

Biasakan menuliskan pujian, keberhasilan, atau hal-hal baik yang terjadi setiap hari. Misalnya, jika seseorang memuji presentasimu, tuliskan kalimat pujian itu di jurnal. Dengan cara ini, otak mulai terbiasa memberi perhatian pada pengalaman positif, sehingga pujian yang sebelumnya mudah terlupakan bisa lebih melekat di ingatan.

Ketika menerima komentar negatif, jangan langsung diserap sebagai kebenaran mutlak. Luangkan waktu untuk menilai, apakah kritik tersebut valid atau hanya persepsi subjektif orang lain. Misalnya, jika seseorang mengomentari gaya kerjamu, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini hal yang bisa aku perbaiki, atau hanya pandangan pribadi mereka? Dengan cara ini, otak belajar membedakan antara informasi konstruktif dan sekadar hal negatif yang tidak perlu dipikirkan berlebihan.

Dengan memahami dan melatih diri menghadapi negativity bias, kita bisa lebih seimbang dalam memandang diri sendiri. Kritik tidak lagi menghantui, tapi bisa dijadikan sarana evaluasi diri.

 

Widia Isnaini Rochmatun Nikmah - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

Editor : Jauhar Yohanis
#kritik #fakta #overthingking #tips hidup