Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Tanda kamu people pleaser tanpa disadari, nomer 3 sering diabaikan.

Jauhar Yohanis • Minggu, 21 September 2025 | 05:10 WIB
ilustrasi people pleaser
ilustrasi people pleaser

JP RADAR NGANJUK- Sering kali kita berusaha tampil sebagai sosok yang selalu menyenangkan bagi orang lain. Bukan hanya peduli, tapi juga rela mengorbankan kenyamanan diri sendiri demi membuat semua pihak puas. Sikap ini disebut sebagai people pleaser yang merupakan sebuah sikap ketika seseorang sulit membedakan antara kebutuhan diri sendiri dengan keinginan orang lain.

Dilansir dari pernyataan seorang psikolog di TikTok dengan akun @sundariindah, alasan utama seseorang menjadi people pleaser adalah ketakutan besar untuk ditolak, tidak diterima, dan dianggap buruk oleh orang lain. Memang wajar, siapa yang ingin dinilai buruk? Tetapi perlu diingat, bagaimana orang lain menilai bukanlah hal yang bisa sepenuhnya kita kendalikan.

Ini tanda-tandanya:

  1. Terlalu sering meminta maaf bahkan ketika bukan kesalahan sendiri karena hal itu merupakan cara untuk menghindari rasa bersalah atau penilaian buruk dari lingkungan sekitar.
  2. Mengikuti keputusan orang lain demi menghindari konflik hingga membuat suara hati sendiri sering terabaikan hanya agar suasana tetap aman dan nyaman.
  3. Susah berkata “tidak” meskipun sedang sibuk atau lelah, karena ada dorongan kuat untuk tetap terlihat peduli dan tidak mengecewakan orang lain.
  4. Cenderung setuju pada semua pendapat meskipun tidak sesuai keyakinan pribadi, demi mempertahankan citra sebagai sosok yang menyenangkan.
  5. Merasa kurang berharga jika tidak memenuhi ekspektasi seolah-olah takut orang kecewa dan keberhasilannya tergantung pada seberapa jauh bisa membuat orang lain puas.

Fenomena people pleaser ini banyak dialami generasi muda terutama Gen Z yang tumbuh dalam lingkungan penuh tuntutan. Keinginan untuk selalu tampil sempurna dan diterima membuat mereka rentan kehilangan diri sendiri. Jika dibiarkan, dampaknya bisa berupa stres, kecemasan, hingga kelelahan emosional.

Menjadi pribadi yang peduli tentu penting, tetapi menjaga diri sendiri jauh lebih utama. Belajar berkata “tidak”, menyampaikan pendapat jujur, dan memberi ruang untuk diri sendiri bukanlah sikap egois. Justru itulah bentuk keberanian agar tetap bisa hadir bagi orang lain tanpa kehilangan jati diri.

 

Artikel ini dibuat oleh Aurora Putri Salsabillah Susanto, Mahasiswa magang dari Universitas Negeri Surabaya.

Editor : Miko
#sehat #mental health #psikolog #mental #kesehatan mental